Watermelon

HOME ABOUT STUFF FRIENDS ➕FOLLOW DASHBOARD

Aulia Suci Wardina. 20 yo. Pendidikan Matematika UPI, 2016
© Skin by Atiqah Jaidin inspired by Myra edited by Aulia Suci Wardina. Image from .
Selamatnya Lidah yang Tak Bertulang
25 February, 2019 | 0 comment(s)

Saya adalah seorang mahasiswa tingkat 3 jurusan Pendidikan Matematika UPI yang saat ini juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus UPI. Saya juga seorang putri dari kedua orangtua juga menjadi kakak perempuan bagi adik-adik saya.

Saya seorang perempuan dan saya bersyukur dengan itu. Yang dengan segala keistimewaannya sampai-sampai islam, melalui risalah yang disampaikan Rasulullah memperjuangkan segala kemuliaan dan kehormatan perempuan. Allah meninggikan derajatnya sampai ada perumpamaan syurga di bawah telapak kaki ibu. Dengan segala keluhuran budinya Allah titipkan hati yang penuh kasih dan Allah izinkan menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembangnya manusia kecil dalam rahimnya yang kokoh, yang kelak ketika besar akan memperjuangkan kalimat-Nya. Juga Ia melabeli kami -para perempuan- dengan sebaik-baik perhiasan dunia dan dengan ridha-Nya serta ridha suaminya ia berhak memilih untuk masuk syurga dari pintu manapun. Sedashyat itu!

Tapi, saat ini masih banyak juga teman, sahabat, kerabat yang belum merasakan betapa Allah amat sangat memuliakan wanita. Dengan bangganya ia menanggalkan satu persatu apa yang telah membalut kehormatannya yang rapi, menjadi lembaran tipis dan amat irit. Dengan segala kosa kata yang dipunya ia suarakan rasa ketidakadilan mengenai gender, juga kebebasan.

 "Perempuan ditindas, diperlakukan tidak adil, hanya sebagai alat tukar, dan kecantikannya hanya diukur lewat fisiknya saja" Begitu kata salah seorangnya.

Perempuan masa kini, yang trendy, penuh obsesi, tapi kehilangan makna Illahi. Feminisme menjadi salah satu bumbu penyedap yang sangat diminati para lelaki kelaparan. Penyuaraan lantang yang kadang membuat pandangan remang-remang, membuatnya kehilangan jati diri dan arah. Hukum syariat dilabas, bahkan rela hanya ditukar emas, hijab pun semakin tak jelas hingga ditumpas..

Allah mengaruniakan perempuan dengan kemampuan berbicara yang lebih baik dari laki-laki, dan pemikirannya yang sistematis, detail, dan kompleks. Tetapi melalui lidah tak bertulang itu bisa menjadi salah satu penyumbang dosa terbanyak untuk menjadi bahan bakar neraka. Tapi akan beda kondisinya jika lidah tak bertulang ini digunakan untuk menyebarkan hal positif, justru akan menjadi amal kebaikan yang bermuara ke syurga. Atas izin Allah.

Seorang penulis memiliki senjata berupa pena untuk mengubah sudut pandang sasarannya, seorang pembicara memiliki kosa kata yang banyak lalu merangkainya menjadi ucapan-ucapan indah, membangun dan menginspirasi orang lain bagi tiap sasarannya pula.

Bagi saya pribadi, seorang perempuan haruslah berpengaruh dan menginspirasi. Seminimalnya pendapat kita dapat didengar baik dalam lingkup kecil ataupun besar. Karena kita semua adalah da'i yang menyuruh kepada kebenaran dan mencegah dari keburukan. Akan nol besar jika apa yang kita ucapkan dengan apa yang direalisasikan tidak sesuai, akan tidak bermakna jika perkataan kita tidak diacuhkan oleh orang lain. Karena kebaikan menuntut kita untuk terus menyuarakan kebenaran dan ajakan yang masif. Melalui dakwah (menyeru, menyampaikan) orang-orang setidaknya akan faham dan siap menjemput hidayah Tuhannya. Kehancuran bukan melulu bermula dari penguasaan orang yang tidak baik, melainkan dari diamnya orang-orang baik. Lisan yang selalu dibimbing oleh Allah dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran menjadi indikator tingkatan iman.
Sehingga lidah bukan lagi penyumbang dosa-dosa di dunia, melainkan selamatnya lidah yang tak bertulang membuat kita terheran-heran atas beratnya timbangan kebaikan di hadapan Allah. Aamiin.

Besar harapan saya akan semakin banyak muslimah luar biasa yang memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya, juga pembicara-pembicara handal yang bukan hanya omong kosong belaka melainkan sebagai pendobrak dan pendorong peradaban. Atas izin Allah.

Bandung, 22 Peb 2019