
Di Atas Satu Kaki
14 May, 2023
•
0 comment {s}
"Pembohong!" Celetuk seseorang yang tiba-tiba menghampiriku.
Aku terperangah, karena saat itu aku hanya duduk seorang diri. Celetukan itu membuyarkan semua lamunanku.
"Apa maksudmu?!" Agak geram kutanyakan maksud pertanyaannya.
"Aku tahu kamu tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja. Kenapa kau membohongi banyak orang? Apa kau juga membohongi dirimu sendiri?" Rentetan pertanyaannya membuatku tak nyaman.
"Aku baik-baik saja."
"Bohong!" Ia tetap menyangkal jawabanku.
"Lalu, kau ingin aku menjawab apa, hah? Bilang kalau aku sedang tidak baik-baik saja ke semua orang? Menangis meraung-raung? Curhat ke setiap orang yang aku temui? Mengatakan ke semua orang bahwa akulah manusia yang paling apes dan menyedihkan? Apa seperti itu?" Kali ini rentetan serangan balik dariku membuatnya tak berkutik dan hanya dibalas dengan helaan napas.
"Lagi pula, tak ada gunanya." Imbuhku lagi.
"Jawab pertanyaanku! Bagaimana rasanya bertumpu pada satu kaki?" Kali ini ia bertanya dengan lebih tenang. Bagiku, itu hanyalah pertanyaan retoris yang sebenarnya tak perlu aku jawab.
"Menurutmu?" Aku balik bertanya.
Ia terdiam.
"Tidak mudah. Aku pincang." Tambahku kemudian.
"Lalu, apa yang bisa kubantu?" Tanyanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ah aku tak suka suasana seperti ini, air mata yang sudah kutahan sejak lama bisa-bisa tumpah saat ini juga.
"Tidak ada." Jawabku singkat.
"Jika tak ada yang bisa kubantu, bolehkah aku mendengarkan apa yang menjadikan dadamu sesak? Setidaknya kamu tak menahannya sendirian." Imbuhnya lagi.
"Katamu tadi, aku bertumpu pada satu kaki saja, kan? Aku pincang. Aku, kerap kali merasa tak seimbang. Seringnya aku tersungkur dan sulit untuk tegak berdiri seperti sedia kala."
"Bisakah aku menjadi kakimu yang satu lagi? Aku ingin bisa menjadi tumpuanmu juga." Tanyanya kali ini yang benar-benar membuat kelopak mataku menghangat.
"Tidak perlu. Kau hanya perlu fokus dengan dirimu saja. Biarkan ini menjadi urusanku. Aku sudah bertahan sejauh ini, aku harus terus berjalan walaupun benar-benar tidak mudah." Kuseka beberapa bulir air mata yang mulai turun.
"Ah lemah sekali. Maaf." Kupandangi ia yang tersenyum getir menatapku.
"Lalu apa yang selanjutnya akan kau pilih? Apakah kau akan tetap bertahan dengan satu kaki? Atau mengubah haluan perjalananmu?" Tanyanya lagi yang menyadarkanku.
"Tidak tahu. Tak banyak pilihan. Doakan saja, ya!"
"Apapun hal yang kelak akan menghampirimu, semoga itu adalah takdir terbaik yang telah Allah gariskan untukmu." Perkataannya kembali mengingatkanku akan konsep takdir Tuhan.
"Hei, apa boleh aku menangis sebentar saja?" Tanyaku.
"Boleh. Sangat boleh. Menangislah di bahuku, hingga kau merasa lebih tenang."
"Terima kasih."
Hingga akhirnya aku pun melebur dalam dekap.
Labels: cerpen

Mekar Setelah Patah
16 April, 2022
•
0 comment {s}

Mekar
Setelah Patah
Karya:
Aulia Suci Wardina
“Cahaya! Selamat ya, kamu terpilih
menjadi mahasiswa berprestasi. Bukumu dalam proses terbit, wajahmu hilir mudik
di pamflet kajian, bulan lalu artikelmu juga sudah dipublikasi. Duuuhh
siapa sih yang enggak jatuh hati sama sosok ukhtivis
multitalent ini? Sudah cantik, pintar, baik hati pula. Ah paket
lengkap deh!” Celoteh Kayla membuyarkan lamunanku.
“Eh, uhm, gimana, Kay?” Aku
kikuk mendapati Kayla sudah duduk tepat di depanku.
“Tuh kan, kamu ngelamun.
Pasti enggak nyimak deh tadi aku ngomong apa.” Cubitan Kayla
mendarat tepat di atas punggung tanganku.
“Aw! Sakit, Kay. Maaf, boleh
diulang tadi kamu ngomong apa?”
“Hm. Jujur ya, Aya, aku tuh
kagum banget loh sama kamu. Kamu terlalu sempurna sebagai sahabat
bagiku yang rombeng. Aku suka insecure loh, Ay selama temenan
sama kamu.” Kayla mengulang pembicaraan dengan redaksi yang berbeda dari
sebelumnya, lebih padat dan ringkas.
“Alhamdulillah. Ini semua karunia
Allah, Kay. Kay, mau aku ceritakan sesuatu? Aku belum pernah
menceritakan ini pada siapapun.”
Kayla tersanjung karena Cahaya
bersedia membagikan kisah hidupnya, namun juga bingung dan penasaran dibuatnya.
“Apa, Ay?”
Langit mengabu, sendu. Dari atas
balkon di sore hari, Kayla dengan sabar menunggu Cahaya mulai bercerita. Flashback.
“Perjalanan hidupku sangat berliku,
Kayla. Mungkin kamu gak akan menyangka. Kau tahu, orang tuaku saat ini
adalah orang tua angkat. Eh maksudnya aku diangkat oleh mereka sebagai
anak, terlebih mama. Mama sangat berjasa bagiku.” Cahaya mengawali kisahnya
yang membuat air muka Kayla berubah, namun Kayla tetap mendengarkan dengan
seksama.
“Ayahku meninggal saat aku kelas
tiga SD. Sejak saat itu, ibuku menjadi tulang punggung keluarga dan memiliki
peran ganda. Ibuku pekerja serabutan yang pendapatan hariannya pun tak tentu.
Kami hidup amat sangat sederhana di sebuah rumah kontrakan di dekat rel kereta.
Teman-temanku adalah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, ada juga yang
hidup menggelandang. Kebanyakan dari mereka putus sekolah dan tak terurus. Aku
pun tak jauh beda, namun ibuku berusaha dengan sangat supaya aku bisa sekolah,
seminimalnya, bisa lulus SD. Saat SD aku sangat jauh tertinggal dibanding
teman-temanku. Kemampuan dalam membaca, menulis, dan berhitungku sangat rendah.
Aku sering direndahkan oleh teman-temanku dan tak jarang pula guru-guru
memarahiku karena aku bebal. Tekanan batin? Iya, pasti! Aku melabeli diriku
sebagai “Si Miskin Nan Bodoh”. Seringkali terbersit dalam pikiranku untuk putus
sekolah kemudian mengamen atau meminta-minta saja, toh, aku bisa menghasilkan
uang dengan cepat namun ibuku bersikeras melarangku dan mempertahankanku supaya
aku bisa lanjut sekolah."
"Di kelas lima, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit
tentang pahitnya kehidupan, tak bisa kupungkiri kalau ternyata waktu itu
mendewasakan seseorang. Aku bertekad untuk menjadi siswa yang berprestasi dan
Allah membukakan jalan dengan dikirimnya sosok mulia bernama Bu Aisyah. Beliau
dengan sabar mengajari aku yang masih terbata dalam membaca, gagap dalam
berhitung, dan payah dalam menulis hingga aku mampu melejitkan potensiku di
akhir semester. Aku juara kelas yang pada tahun berikutnya juga aku menjadi
juara umum dengan nilai ujian nasional tertinggi se-Kecamatan. Tak jarang beliau
juga memberikan bantuan berupa materi dan dukungan yang menghantarkanku untuk
bersekolah di salah satu SMP favorit.” Aku menghela napas. Kayla mengubah
posisi duduknya.
“Di SMP, aku dikenal sebagai murid
yang berprestasi. Label “Si Miskin Nan Bodoh” sudah kulepas sejak aku masuk
SMP. Teman-temanku sangat banyak, namun aku mulai tenggelam dengan hingar
bingar dunia. Aku semakin jarang mengingat-Nya. Frekuensi ibadahku menurun.
Hingga akhirnya, Allah menegurku. Aku kehilangan penglihatanku. Duniaku ambruk,
hancur berantakan. Aku hampir gila saat itu dan tidak mau menerima keadaan.
Mengeluh, menghardik, dan meluapkan amarah menjadi keseharianku. Teman baikku,
seperti lenyap ditelan gelapnya penglihatan. Orang-orang silih berganti
menyalamiku dengan iba atas kondisi yang menimpaku. Aku dipindahkan ke sekolah
luar biasa. Sejak saat itu, justru aku sangat merasakan kehadiran ibu yang
juga sahabatku. Ibuku yang mengajarkanku arti keikhlasan yang dengan modal
itulah aku berhasil menerima kondisi diriku sendiri. Aku jatuh dan terpuruk,
namun uluran tangan ibu sangat panjang hingga mampu meraih kejatuhanku. Aku
kembali bertekad menjadi siswa yang berprestasi, demi ibuku.” Kayla mengusap
punggung tanganku memberi semangat dan kembali menyimak dengan serius.
“Kamu pasti bertanya-tanya, mengapa
sekarang aku bisa melihat?” Tanyaku pada Kayla yang diikuti dengan anggukan
kepala tanda setuju.
“Ibuku orang yang sangat baik hingga
dengan kebaikannya sebagai pembuka rezeki dari Allah untuk kami. Saat itu ada
seorang wanita yang ia temui lemas terkulai dan sesak napas di pinggir jalan.
Ia dicopet. Ibuku menghampiri dan membawanya ke rumah sakit dengan sisa uang
yang ia miliki. Kejadian tersebut yang mengantarkan ibuku memiliki pekerjaan
tetap dan wanita tersebut adalah mama. Mama kagum dengan ketulusan hati ibu dan
mungkin iba dengan kondisi kami, terkhusus aku yang buta. Kehidupan ibu dan aku
jauh lebih baik. Mama sangat santun kepada kami dan kagum dengan prestasiku, ia
membiayai segala kebutuhan sekolahku. Ibuku mampu melepas sedikit beban
di punggungnya dan tersenyum lebih lega. Kuusap wajah ibuku dengan lembut,
lekukan di wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Aku pun ikut tersenyum kala itu.”
“Duniaku boleh saja gelap saat itu,
namun Allah menggantikan penglihatan itu dengan kepekaan yang sangat tinggi
pada diriku. Selama itu, aku hanya mampu melukiskan wajah ibu yang tersenyum
dalam imajiku. Dekapannya sangat hangat, aromanya khas sebagai penanda
keseriusannya dalam berjuang melawan pelik kehidupan.” Kubayangkan wajah ibu dan
tumpahlah air mataku. Kayla mengelus bahuku lembut.
“Di akhir masa SMA-ku, tepatnya saat
masa transisi ke perkuliahan, Allah sangat menyayangi aku dan ibu. Aku ingat
sekali, tepat setelah aku mengambil surat tanda kelulusan, mama mengabarkanku
bahwasanya ibu muntah darah dan dilarikan ke rumah sakit. Aku kalut, tidak
biasanya ibu muntah darah. Ibuku didiagnosa menderita lambung kronis yang pasti
dikarenakan ketidakteraturan pola makannya dahulu dimana ia lebih mementingkan
kebahagiaanku, anaknya, daripada rasa laparnya hingga mungkin harus ia rasakan
sakit dan melilit pada perutnya.” Aku sesenggukan.
“Tiga hari di rumah sakit, tak
membuat kondisi ibu membaik. Kata mama, ia terus muntah darah begitupun pada
fesesnya yang bercampur darah.”
“Hingga akhirnya, mataku mampu
kembali terbuka, kali ini bukan dengan suasana gelap, melainkan dengan beragam
warna secara perlahan. Aku bisa melihat. Tak lama berselang, mama memelukku bahagia
dan menyampaikan kabar duka. Ibuku meninggal 2 jam sebelum aku operasi mata.
Ibu ingin sekali aku bisa melihat dunia seperti sedia kala dan mama pun dengan
kemurahanhatinya bersedia mengakomodasi segala biaya operasiku jika kelak ada
pendonor yang bersedia mendonorkan korneanya, ternyata pendonor tersebut adalah
ibu. Pilu. Aku hanya bisa mematung. Duniaku seperti hancur kesekian
kalinya.” Aku tak kuasa, aku menangis setengah menjerit. Kayla pun memelukku erat.
“Dalam kesakitannya, ibu masih
mengkhawatirkanku, hingga ibu memohon dengan sangat kepada mama untuk
mengangkatku sebagai anaknya dan mama pun menyetujui. Hubungan keduanya bukan
lagi sebatas hubungan majikan dan asistennya, lebih jauh dari itu seperti kakak
dan adik.”
***
Ingatanku melayang bersamaan dengan
apa yang telah kuceritakan pada Kayla. Pada saat itu, mama memberikan surat
titipan ibu yang kemudian segera kubaca.
“Cahaya tanpa cahaya tak melulu
gelap gulita. Cahaya di atas cahaya, penuntun hati memahami semesta. Hati yang
bersih tanpa hingar bingar semata, murni mengais asih-Nya. Cahaya, cahaya hati
ibu. Ibu bahagia jika kamu bisa membaca surat ini. Jangan larut dalam kesedihan
ya, nak. Dalam doa-doa panjang, ibu berharap supaya kelak Cahaya bisa menjadi
cahaya bagi sekitar yang banyak memberikan kebermanfaatan.”
Lagi, aku terguncang. Surat tersebut
kembali menyadarkanku bahwa ibu telah tiada. Kuhampiri jasadnya yang terbujur
kaku, kudapati wajahnya indah terlukis senyum.
“Akhirnya aku bisa melihat ibu lagi
setelah tiga tahun aku hanya bisa meraba muka ibu saja. Ibu masih tetap cantik
seperti dulu.”
Kupeluk lalu kubelai wajah ibu
dengan belaian lembut untuk terakhir kalinya. Aku turut memandikan, mengafani,
serta menyolati jenazah ibu, lalu kubisikkan tepat di telinga ibu.
“Bu, terima kasih atas segala
pengorbanan yang ibu berikan untuk Aya, anakmu. Hingga akhir hayatmu, ibu masih
memikirkan kebahagiaan Aya, ibu masih berusaha memberikan apa yang bisa ibu
berikan untuk Aya. Selama ini, Aya lebih sering merepotkan ibu dan takkan bisa Aya
balas setiap perjuangan ibu. Bu, walaupun ruh ibu telah berpisah dari jasad,
namun ibu akan selalu ada di relung hati Aya. Bu, semoga Aya dapat menjadi seseorang
yang tidak hanya mampu memberikan kebanggaan di dunia, namun juga bisa menjadi
amal jariyah di akhirat kelak. Bu, Aya akan selalu ingat dengan ibu. Aya bertekad
untuk terus taat kepada Allah, dan menjadi bagian dari keluarga-Nya, semoga
Allah pertemukan ibu, ayah, dan Aya di syurga-Nya kelak dengan dipakaikan jubah
kehormatan. Aya ingin menebar manfaat lebih luas lagi, Aya ingin membantu
sesama, Aya tidak ingin menyia-nyiakan segala perjuangan ibu, semoga Aya bisa
menjadi Muslimah berdaya guna, bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi
banyak orang.”
***
“Ternyata kisah hidup Aya luar
biasa. Allah pasti sudah menakar untuk memberikan semua ini bagi Aya dan
terbukti Aya berhasil sabar menaiki setiap proses pendewasaan diri itu. Atas
kesabaran Aya, Allah meninggikan derajat di dunia, salah satunya lewat ilmu.”
Perkataan Kayla mampu meredam gemuruh di dada. Aku pun menyeka bulir-bulir air
mata yang masih membasahi pipi.
“Terima kasih, Kayla.”
“Iya, sama-sama. Berkat tekad dan
dukungan yang luar biasa menjadikan Aya sebagai sosok yang luar biasa yang aku
juga sangat terinspirasi darimu. Seorang muslimah yang mampu mewujudkan setiap
mimpi dalam kehidupannya: mahasiswa berprestasi, ukhtivis yang mampu
mendayakan banyak orang, penulis ulung yang tajam dan kritis, namun banyak juga
yang menyentuh hati, menggugah dan mengubah pembacanya. Aya supel, cantik, dan
lembut. Di sela-sela kesibukan, Aya masih meluangkan waktunya sebagai hamba: bermujahadah
memberi kado special untuk kedua orangtua dengan menghafalkan dan
mengamalkan kalam-Nya. Hayooo… kurang apalagi aku mengobservasi kamu? Hehehe.”
“Wah, jangan-jangan kamu
intel ya?” Aya terkekeh mendengar celoteh Kayla yang baginya terlalu
berlebihan.
“Bagiku, pujian itu ujian. Kita
harus senantiasa menjaga niat dalam setiap keberjalanan hidup. Untuk apa kita
berjuang dan untuk siapa? Semoga hanyalah untuk Allah, Rasul, orang tua, bangsa,
dan agama. Aamiin.”
“Aku juga ngefans banget loh sama
kamu, Kay!” Seruku.
“Ah masa iya?” Ledek Kayla.
“Iya serius loh, tapi nanti
kalau kuberi tahu, kamu malah jadi geer lagi. Hehe. Nanti aja
ya, kapan-kapan. Sudah maghrib, yuk masuk.”
Percakapan sore itu ditutup rapat
oleh tenggelamnya matahari yang semburatnya malu-malu di ufuk barat.
Patah bukan berarti mati.
Patah bukan berarti sepi.
Patah tak melulu tentang meratapi.
Akan ada sesuatu yang mekar setelah
patah.
Demi kehidupan abadi.
---
Draft tulisan 14/11/2020
Labels: cerpen

Untuk Yang Tercinta
27 July, 2021
•
0 comment {s}
"Cinta, kemarilah. Aku sudah lelah, ingin sekali rebah."
***
Jarum jam membujur ke angka 12, tepat tengah malam. Sepasang mata bola yang sayu dengan kantong matanya yang payah nampak lemah menatap langit-langit kamar.
"Fiuuhhh". Helaan napasnya yang berat mencerminkan keadaan batinnya.
Gadis itu bangkit dan termenung di sudut kasurnya. Tatapan matanya kosong, namun pikirannya kalut, ramai, juga bising. Hatinya bergemuruh, kakinya lunglai. Bagaimana tidak, sudah dua hari ini tak ada satu suap makanan pun ke dalam mulutnya. Hujan lebat malam ini, menusukkan angin malamnya dengan syahdu dari sela-sela dinding kamar, ventilasi dan jendela.
***
"Aku ini siapa? Apakah aku seperti apa yang mereka selalu teriakkan kepadaku? Aku tak bisa berkilah, pun aku akhirnya diam saja. Aku tak ingin jika aku membela diri justru mereka menjauhiku." Pikirannya berkelana, mengingat-ingat setiap catatan kehidupannya.
"Tap tip tap".
Jari jemarinya digerakkan di atas tombol saklar lampu tidurnya. Merebah, menarik selimut dan membukanya lagi. Gamang. Ia tak kunjung tidur jua. Setelah beberapa menit kebingungan, akhirnya ia paksakan untuk menutup kedua matanya.
***
"Tolong, tolong, jangan ikat aku! Jangan bunuh aku! Tolong, lepaskan aku, Nadira!" Nadira tersengal melihat sosok lain dirinya berwajah bengis.
"Untuk apa, Nadira? Lihat, apa gunanya hidupmu? Sebaiknya kau sudahi saja! Ada atau tanpa adanya dirimu, itu sama saja bagi mereka. Kau tetap sampah masyarakat!"
"Tolong, aku tidak mau! Tolong lepaskan aku! Toloooooonggggggg!"
Ia terbangun. Wajahnya pucat pasi, keringat mengucur deras. Kelumit pikirannya sebelum tidur, ternyata menariknya terlalu dalam hingga ke alam bawah sadar. Tatapannya menyapu ke sekeliling ruang kamarnya yang kemudian mendapati sebuah barang.
"Ah dapat!"
"Maafkan, Nadira, ayah, ibu." Belum sempat ia sayatkan cutter ke tangannya, ingatannya kembali dilayangkan pada pertemuan mentoring sebelumnya di sudut masjid kampus.
"Ukhti fillah, kita semua ingat bukan dengan firman-Nya dalam ayat terakhir surah Al-Baqarah yang menyebutkan bahwasanya, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan batas kesanggupannya? Ya begitulah Ia, jika Allah memberi ujian kepada kita selaku hamba-Nya, maka Allah tahu dan yakin bahwa kita sanggup untuk memikulnya."
"Ujian itu sarana untuk menaikkan derajat kita di hadapan-Nya dengan selalu teruntai sabar dan syukur. Ingatkah bagaimana kisah Nabi Zakaria yang telah berusia senja namun belum juga dikaruniai keturunan? Beliau tetap berprasangka baik atas setiap takdir-Nya, hal tersebut diabadikan dalam QS. Maryam ayat 4 bahwasanya beliau belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. Doa yang kerap kali dilangitkan, doa sebagai wujud persaksian seorang hamba atas setiap kelemahannya di hadapan Tuhan. Ingat, akhwat, Ia sangat dekat. Katakan pada masalah yang besar, bahwa aku punya Allah yang Maha Kuasa. Bukankah penilaian seorang manusia itu hanya didasarkan pada dua yakni pada letak iman dan taqwanya? Semua sama di hadapan-Nya tak peduli miskin atau kayanya, cantik atau buruk rupanya, laki-laki maupun perempuan. Kesempatan itu terbuka luas untuk kita selaku hamba-Nya."
***
Ia rasakan kelopak matanya menghangat, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang bersih. Ia lemparkan cutter yang telah digenggam erat dan bersegera mengambil air wudhu.
"Dini hari ini adalah titik balik. Bukti kesungguhanku sebagai hamba-Nya. Aku mencintai diriku, karena aku yakin Allah menciptakan setiap hamba-Nya dengan sebaik-baik bentuk. Ya aku yakin itu, bismillah. Semoga Allah bantu istiqomahkan perjalanan ini. Untuk yang tercinta, Nadhira Arsyi Azzahra, perjuangan ini untukmu."
Di atas hamparan sajadah dalam malam yang sunyi, gadis itu akhirnya larut dalam bermunajat kepada Tuhannya.
***
Salah satu tulisan yg dibukukan oleh Ellunar Publisher, alhamdulillah.
Labels: cerpen

Ketuk dan Tutup
03 December, 2020
•
1 comment {s}
Seseorang mengetuk pintu di sudut sana. Pemilik rumah merasa bingung, tak tahu akan bagaimana. Sosok asing.
"Siapa tamu itu?""Untuk apa ia datang kemari?"
Sang tamu mengetuk pintu untuk menyampaikan niat baiknya yang telah dikubur sejak lama. Tapi sayang, sosoknya tak kentara di pandang mata sang pemilik rumah.
"Ah hanya bayang-bayang saja, bisa jadi gurauan semata." Intipnya di balik jendala.
Namun ada yang berbeda pada dirinya. Hal sederhana itu, membuatnya terus berpikir untuk apa dan siapa. Ternyata sia-sia saja, ia tak berani menghadirkan sosok dan rupanya. Sosok itu hanya mengetuk pintu yang jauh di sudut sana. Entahlah.
"Baiknya, kututup rapat saja. Kutinggikan pagar, dan kurapikan sudut-sudut yang hilang supaya tak mudah orang mengintip apa yang ada di balik pagar."
"Kututup pintu di bumi dan kuketuk pintu di langit. Bila saatnya tiba, akan kubuka pintu itu entah untuk siapa. Semua akan indah atas Izin-Nya."
Labels: cerpen, Random

Cinta Kebebasan Tak Bertuan
28 November, 2020
•
0 comment {s}
Gelap. Gang ini gelap. Penglihatanku
remang-remang, namun masih mampu kudapati seberkas cahaya di ujung gang.
Badanku terasa remuk, pelipisku dibanjiri darah, sudut bibirku terasa nyeri
sekali.
“Sebentar, aku ini dimana?”
“Apa aku masih hidup atau sudah
mati?”
Aku mampu kembali sadar. Kutatap
sekeliling, sepi. Kudapati seorang perempuan tergeletak dan tak sadarkan diri
tepat beberapa meter di depanku.
“Sarah!” Pekikku kaget.
“Dalam ketidakberdayaanku kali ini,
aku percaya Engkau ada. Engkau memberi kesempatan bagiku sekali lagi untuk
tetap bernapas. Kau masih membiarkanku hidup. Tolong beri aku kekuatan, aku
tidak akan biarkan Sarah sekarat!” Aku mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaga
yang dimiliki dan segera kuraih tubuh Sarah yang penuh lebam dan bibir pucat.
“Tolong! Tolong beri kami kesempatan
satu kali lagi, Ya Allah! Izinkan kami untuk menjadi pejuang dalam menegakkan
agama-Mu.” Jeritku penuh harap dari lubuk hati terdalam.
***
“Seorang perempuan masa kini, udah
bukan jamannya lagi ada di ketiak laki-laki yang hanya mengurusi sumur, dapur,
dan kasur. Ciiih!” Seorang perempuan dengan rambut tergerai mengenakan
kaos oblong putih dengan beraninya berbicara di suatu debat terbuka.
“Dimana letak keadilan Tuhan untuk
kami para perempuan? Kami ingin kebebasan! Jangan apa-apa agama, ini-itu agama,
duh capek deh! Agama kok ngatur banget ya!”
“Kami ini menuntut kesetaraan!
Perempuan ditindas, dilecehkan, dibatasi haknya, dan hanya dijadikan sebagai
objek bagi laki-laki. Apakah kalian setuju puan?” Lanjutnya lagi dan
dilanjutkan dengan soraknya yang sangat bergelora.
“Setuju!”
“Ya, betul!”
“Sangat betul kak! Agama menyulitkan
saja!”
Suasana menjadi ramai riuh seperti
sedang menabuh genderang perang saja. Aku terbawa suasana juga, menggebu-gebu,
dan ingin sekali menyuarakan tentang kebebasan perempuan. Selama ini aku
melihat ibu hanya menjadi korban kekerasan ayah di rumah, ibu pula yang menjadi
tulang punggung keluarga. Aku tak tega jika mengingat kejadian tersebut dan
kini beliau telah tiada.
Aku murka dan sangat kesal dengan
ayahku yang bagiku beliau adalah penyebab kematian ibu. Aku merasa Tuhan tidak
adil menuliskan garis kehidupanku sehingga kuputuskan untuk mencari tempat pelarian
yang bisa memberikan empati atas apa yang sedang aku rasakan. Ya, aku bergabung
ke suatu paguyuban yang membela hak-hak perempuan atau sering dibilang dengan
perkumpulan para feminis. Bak sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, aku
pun dikenalkan dengan paham-paham kebebasan yang lain dan dengan modal itulah
aku tak merasa diikat oleh aturan atas kebebasan diriku sendiri.
Aku bebas. Tubuhku adalah
otoritasku. Aku bebas berekspresi, hingga puncaknya, aku meyakini bahwa jilbab
yang selama ini kupakai hanyalah budaya dari suatu negara. Kutanggalkan
jilbabku sebagai wujud solidaritasku dalam keberagaman yang tak bersekat-sekat,
“Gue, Katrina Alika yang akan
bersuara lantang mengenai pembelaan hak perempuan di Negeri Antah Berantah ini!
Kami kuat karena bersatu. Tidak ada satu pihak pun yang mampu menindas kami!”
Tekadku sangat bulat setelah 2 bulan bergabung di paguyuban tersebut.
***
Sore itu, seperti biasanya kami
berkumpul di suatu taman kota untuk bertemu sekaligus membahas berbagai isu
terkini dan langkah-langkah pergerakan di kemudian hari, apalagi kalau bukan
untuk mencapai tujuan bersama.
“Hei, gue bawa temen baru nih!
Dia rada pemalu, tapi kayanya mah garang juga nih. Boleh lo
langsung kenalin diri aja.” Rangkulku ke anggota baru tersebut.
“Mmm… Kenalin, namaku
Sarah Maisarah asalnya dari daerah Tanah Lapang. Aku seneng banget bisa
gabung sama temen-temen di sini. Kalian keren seperti wonderwomen.”
Sarah tersipu malu memperkenalkan diri dengan logat kedaerahannya.
“Jadi gimana gais terkait RUU
yang pro sama kita bakal disahkan kan? Gue tuh gangerti ya sama
orang-orang di negeri ini. Ya coba dong open minded gitu. Udah mah
pemikirannya kolot terus ngotot pula! Bikin kita ngeluarin tenaga
ekstra kan. Masa terkait sexual consent aja diributin,
ya gak sih? Toh tubuh ini tubuh kita sendiri gitu loh, ya kalo
mau ngapa-ngapain harus dapat persetujuan pemiliknya lah!” Aku
mengawali pembicaraan.
“Emang sexual consent itu apa
sih, Rin?” Sarah bertanya dengan polosnya.
“Oh iya, gue lupa.
Sarah kan member baru ya, hehe, gue udah kejauhan angkat
bahasannya.”
“Jadi gini, Sar, gampangnya
tentang sexual consent merupakan persetujuan dari kedua belah pihak buat
berhubungan seks. Jadi gaada keterpaksaan gitu loh.”
“Wah bener tuh, Rin.” Sarah
menyetujui pernyataanku.
“Tapi rin, apakah ini ada kaitannya
dengan ikatan pernikahan?” Pertanyaan Sarah kali ini mulai kritis.
“Sependek pemahaman gue sih, ga
ngaruh. Selama suka sama suka dan saling setuju, why not?
Hehehe.”
“Oalah gitu ya, Rin.
Rin tapi bukannya hal itu tuh masuknya ke kategori dosa besar ya
kalau belum ada ikatan pernikahan? Zina, Rin.”
“Aelah, Sar. Lo tuh
polos banget sih! Ya gapapa dong, kan suka-suka mereka.
Kita kan pendukung kebebasan. Kita masih muda, udahlah happy-happy
aja, toh dosa urusan mereka. Ternyata pemikiran kamu masih konservatif ya, hahaha.”
“Maklum, Rin, dia kan baru. lo
juga dulu pas baru datang gitu kan? Haha. Tapi kayaknya
lo lebih bar-bar deh.” Ledek salah seorang teman terkait jawabanku.
Jawabanku sempat membuat pergolakan
di hati Sarah. Keluarga Sarah termasuk keluarga yang taat aturan dan dekat
dengan agama. Aku diceritakan olehnya, bahwa beberapa pamannya merupakan ustadz
ternama di daerahnya.
“Oh iya, bulan depan ada diskusi
lagi tuh, rivalnya ya lawan kita. Orang-orang konservatif. Lo
siap jadi pembicaranya Rin?”
“Sure, why not?”
***
Perhelatan diskusi terbuka akhirnya
tiba juga. Meja dan kursi sudah disusun rapi, audiens mulai berdatangan, begitu
pula pemateri sudah stand by di atas panggung dengan mengusung tema
“Bagaimana Peran Kesetaraan Gender Bagi Kemajuan Negeri Antah Berantah?”. Di
pihak pro ada Katrina sebagai pembicara dan di pihak kontra ada Isma dari
Komunitas Emak-emak Tahan Banting. Sesi diskusi dimulai tepat waktu.
“Baik, kita akan memulai dengan
pemahaman kesetaraan gender itu sendiri. Boleh, Kak Katrina untuk lebih dulu
memaparkannya.”
“Baik, terima kasih moderator telah
mempersilakan saya untuk mengawali diskusi. Ya. Sebagaimana kita tahu, selama ini
perempuan sangat sering dipandang sebelah mata, direndahkan, dan dilecehkan
karena merupakan kaum yang lemah. Kami mengusung paham kesetaraan gender yang
juga bentuk penyetaraan hak-hak perempuan di segala lini. Perempuan bukan lagi
sebatas rice cooker atau kain pel. Perempuan mampu berdaya guna. Dengan
adanya dukungan bagi para perempuan untuk berkarier akan sangat mungkin untuk
turut memajukan Negeri Antah Berantah ini. Yang pasti juga, kita tidak banyak
diatur sehingga kita lebih merasa enjoy untuk berkarya.” Aku memaparkan
dengan sangat menggebu.
“Baik, terima kasih kepada kak
Katrina, selanjutnya dipersilakan kepada Kak Isma untuk menyampaikan
pendapatnya.”
“Bagi kami, posisi antara laki-laki
dan perempuan bukan terkait dengan suatu kesetaraan karena kami menganggap itu
hanyalah sudut pandang materialis saja, lebih tepatnya posisi laki-laki dan
perempuan adalah serasi pada perannya masing-masing. Tanpa adanya pengekangan
dari salah satu pihak membuat keduanya mampu mengoptimalkan segala potensinya.
Laki-laki dengan karakternya yang kuat sebagai pelindung dan pekerja keras,
perempuan dengan karakternya yang lembut dan penyayang mampu memberikan
kehangatan bagi sesamanya, anak-anaknya, para orang tua, dan suaminya. Sangat
salah jika opini-opini di luar sana menyatakan bahwa islam tidak adil terhadap
kaum perempuan. Dalam berislam, tidak ada diskriminasi. Laki-laki dan
perempuan, bagaimanapun warna kulitnya, bentuk rambutnya, daerah asalnya, semua
berhak mendapatkan pahala sesuai dengan amal yang dikerjakannya untuk meraih
derajat taqwa. Jika kita tengok kembali bagaimana perjalanan Khadijah ibunda
kita, beliau merupakan pedagang yang sukses, beliau terpandang, namun beliaulah
yang melengkapi Rasulullah. Beliau berkorban hartanya tidak lebih sedikit dari
kaum laki-laki sebagai bentuk perjuangannya. Beliau yang memberi ketenangan
bagi Rasul, beliau mampu mengembangkan skill-nya. Perempuan memiliki
peran yang sangat besar bagi kemajuan suatu peradaban, karena dari rahim-rahim
terbaik akan melahirkan generasi yang terbaik juga. Janganlah kita saling
menuntut dan menghakimi, bukankah dengan keserasian akan tercipta harmoni?
Semua telah diatur dan ditakar secara adil sebagaimana porsinya. Saya seorang
muslim, saya sangat bangga dan yakin dengan agama saya, Islam yang sempurna
tanpa cacat, mungkin dalam keberjalanannya kerap kali manusianya yang salah,
begitu juga saya yang tak luput dari dosa” Panjang lebar Isma menyampaikan
pendapatnya, hatiku terketuk.
“Kamu juga seorang muslim, Rin,
namun mengapa tidak kau temukan kebanggaan seperti Isma akan Islam?” Renungku
dalam hati.
Diskusi berakhir setelah 1,5 jam
berjalan dan keduanya teguh mempertahankan opininya terkait kesetaraan gender
untuk kemajuan Negeri Antah Berantah di masa mendatang.
Ada yang berbeda setelah perhelatan
itu, Sarah secara konsisten menyatakan sikap untuk keluar dari paguyuban
tersebut karena hati nuraninya meminta untuk kembali ke jalan yang ia tempuh
sebelumnya, jalan islam yang syamil. Hatiku pun bergejolak. Aku tak menyangkal
perkataan Isma bertubi-tubi menembus ke relung hati dan membuatku terus
merenung. Aku yang menuhankan kebebasan terus berpikir akan kebenaran yang
sesungguhnya. Aku mulai mempelajari apa yang mungkin terlewat dalam
kehidupanku. Selama sepekan ini aku sering berkonsultasi dengan ustadzah di
masjid yang tak jauh dari tempat kost-ku, aku merasakan ketenangan atas setiap
jawaban yang beliau sampaikan. Sedikit demi sedikit, aku mulai melepas
kegiatanku di paguyuban tersebut dan mulai menarik diri.
“Aku merasa jauh lebih tenteram. Ya
Allah, maafkan aku yang telah jauh dari jalanmu. Bimbing aku untuk kembali.”
Doaku dalam hati.
Terhitung lima hari sejak aku dan
Sarah resmi mengundurkan diri, memilih jalan kami sendiri. Selepas shalat isya,
kami yang mulai membiasakan shalat tepat waktu di masjid merasakan keganjilan
ketika memasuki gang sempit dan gelap sebelum sampai ke tempat kos kami. Kami
dihadang oleh 2 sosok lelaki tinggi besar yang merupakan bodyguard mama.
Mama adalah panggilan kami kepada senior di paguyuban dahulu. Gang itu memang
sangat sepi dan minim pencahayaan. Kami ditawari untuk kembali ke paguyuban
dengan sejumlah imbalan. Kami menolak, karena kami yakin dengan identitas kami
sebagai muslimah akhir zaman yang berusaha memegang teguh ketaatan pada-Nya.
Keyakinan kami diganjar dengan pukulan. Kami kalah. Badan dan tenaga kami tak
mampu mengelak setiap pukulan bertubi-tubi.
“Ya Allah, jika pun ini akhir dari
kehidupan kami, jadikan kami seorang muslimah terbaik di sisi-Mu, matikanlah
kami dengan husnul khatimah. Ampuni dosaku selama ini. Sungguh aku sudah amat
jauh darimu. Aku malu atas semua perbuatanku terdahulu. Tolong akui diriku
sebagai hamba-Mu.” Lirihku dengan napas tersengal.
“Ya Allah, saksikan bahwa kami
seorang muslim. Kami tidak setangguh Sumayyah atau Nusaibah, namun sungguh kami
sangat mengemis rahmat dan ampunanmu, Ya Rabb.” Dihadapanku, tergeletak Sarah
dengan mata terpejam dan bibir yang kelu namun masih dapat kudengar sedikit
doanya yang lirih dan rintihan kesakitannya.
Dzikir dan dzikir terus dilantunkan,
tak sadar, mata kami terpejam.
Cinta
kebebasan tak bertuan adalah semu
Hamba
dan Tuhannya
Cinta
dan ampunan-Nya
Takut
dan harap hanya pada-Nya
Kami
seorang Muslimah akhir zaman
Penuh
fitnah dan tipu daya, halang juga rintang
Semoga
senantiasa terjaga dan mampu menjadi penegak kalimat-Nya
Menjadi
umat terbaik yang dipilih secara khusus oleh-Nya
Kamu
mungkin sudah terlalu jauh mengembara, mari lekas pulang
Kita
berkumpul di Jannah-Nya.
***
Dalam rangka mengikuti Alqolam Writing Festival
Labels: cerpen

Tentang Seorang Lelaki
09 October, 2020
•
1 comment {s}
Dini hari.
Suara bising bercampur riuh yang kalut membangunkanku.
"Lia, bangun! Banjiiiirrrrr...!"
Akupun bangun dan tergopoh melihat kondisi rumah yang sudah digenangi air, terlebih di ruang tamu dan salah satu kamar. Membantu sebisaku, seperti biasa, ditambah sedikit kepanikan dan kondisi orang yang terbangun karena kaget. Aku mencari kain pel namun tak kutemui juga karena kondisi di depan rumah sedang dipenuhi oleh alat-alat bangunan. Ya kutelusuri dari depan hingga belakang rumah, namun nihil.
"Baiklah, kupakai ini saja!" Kutarik sprei yang kadung basah.
Kulihat ibu sudah bersiaga menghadang genangan yang sangat mungkin menjadi jauh lebih banyak debit airnya, di depan pintu. Ayahku sudah bersiaga di bangunan baru untuk membuka celah-celah resapan air.
Melodi yang berasal dari nyanyian katak khas seperti memanggil hujan disertai guyuran air yang ditumpahkan langit. Syahdu, membuat siapapun untuk memilih tetap pada kasurnya masing-masing tapi tidak buatku.
Genangan air yang masuk itu sukses melakukan ekspansi. Aku mengurus genangan di kamar dan ibu di ruang tamu. Barang2 pun dipindahkan dengan cepat supaya tidak semakin basah, adik-adik pun segera dievakuasi ke kamar belakang.
Drama penyelamatan kamar dan ruang tengah terus berlangsung.
"Lia coba lihat abi di luar! Kayaknya abi memanjat ke dekat rumah tetangga."
Kuturuti saja seruan ibuku. Jelas saja, kudapati ayah sedang bergulat melihat bagian mana yang harus segera ditutup untuk mencegah banjir lebih parah.
"Lia, tolong ambilkan banner!"
"Yang mana bi?" Sambil kucari ditumpukan barang di depan rumah.
"Pakai itu saja, banner yang berdiri."
"Oh, x-banner!"
Kuserahkan banner tersebut dan kudapati beliau sedang berjuang memasangkan di bawah lebatnya hujan dini hari. Aku pun masuk untuk kembali membersamai ibuku. Mengupayakan untuk air bisa surut dan tidak lagi menggenang. Sementara itu, kudengar suara ayahku mengetukkan benda tumpul ke tanah, sebagai upaya untuk membuat resapan air.
Pertunjukan malam ini, bak episode rintik sendu bagiku. Kulihat bagaimana perjuangan ayahku menerobos hujan dan ibuku siap siaga membantu di tempat yang berbeda. Hatiku mengelu.
***
Seketika kuteringat peristiwa kebakaran yang hampir membumihanguskan rumah kami. Saat itu sedang kumpul keluarga, tiba-tiba kepulan asap memenuhi seisi rumah yang ternyata sumbernya dari dapur. Ternyata ibuku lupa mematikan kompor yang di atasnya terdapat penggorengan dengan minyak panas yang telah berubah wujud. Kutengok ke belakang, dan kudapati api sudah menyala-nyala yang sedikit lagi, sampai ke atap rumah. Qadarullah ayah dan paman dengan tenang dan heroik berusaha memadamkan api tersebut. Dimulai dari dicabutnya gas dari regulator dan menjauhkannya dari sumber api, dilanjutkan dengan ditutupinya kompor yang dipenuhi api dengan lap (keset) basah yg dicemplungkan ke got depan rumah terlebih dahulu.
Suasana kumpul keluarga yang semula penuh dengan canda tawa, berubah menjadi situasi yang menegangkan. Para ibu dan anak bersahutan satu sama lain karena panik. Aku, diam saja namun aku berdoa supaya api segera padam dan kebakaran dapat dihindarkan. Atas izin dan pertolongan-Nya, api berhasil padam tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti walaupun ingatan itu masih membekas kuat hingga hari ini.
***
Dua kejadian itu mengingatkanku dengan cuplikan kisah heroik perjuangan seorang laki-laki yang selama ini kupanggil abi yang dengan tanggung jawabnya yang besar menjadi pelindung bagi anak dan istrinya. Laki-laki dengan fisiknya yang lebih kuat dan emosinya yang terkendali memang secara fitrah menjadi sosok pelindung bagi wanita, anak kecil, dan orang tua. Ratusan bahkan ribuan kali kusaksikan kisah heroik perjuangannya dengan ibuku yang selalu membersamai di belakangnya sejak aku dalam kandungan hingga saat ini. Berkali-kali kupandangi punggung kedua orang tuaku satu-persatu, bersamaan dengan itu doa kupanjatkan untuk dua orang baik sebagai perantaraku ada di dunia ini. Betapa baiknya mereka yang selalu mendahulukan kepentingan anaknya di atas kepentingan pribadi.
"Ya Allah, ampuni dosa kedua orang tuaku dan sayangilah ia sebagaimana mereka menyayangiku sedari kecil, jagalah mereka dan adik-adik dengan sebaik-baiknya penjagaan dari-Mu. Jagalah kami dalam ketaatan kepada-Mu. "
Air mataku pun meleleh.
Jika ditanya terkait bagaimana kriteria calon pasanganku, dengan lugas aku akan menjawab, "Yang seperti abiku dan semoga yang lebih baik lagi dari beliau!"
Ayah dan ibuku merupakan role model bagiku. Keduanya yang senantiasa menyiramkan kasih dan kehangatannya kepada kami anak-anaknya, mengikutsertakanku yang dituakan daripada adik-adik pada tempaan-tempaan untuk menguatkan pundak yang lemah.
Sebagaimanapun kuatnya seorang wanita, pasti selalu membutuhkan sosok pelindung yakni makhluk bernama laki-laki dengan segala kebaikan budi dan tanggung jawabnya. Ya, laki-laki dan perempuan itu lebih cocok disandingkan dengan diksi yang serasi, bukan melulu tentang setara.
Yuk, berikan yang terbaik untuk kedua orangtua kita baik dari perlakuan, perkataan maupun doa.
Pun jika salah satu atau duanya telah tiada, mari kita langitkan doa dengan hati yang sebenar-benarnya tulus meminta kepada-Nya.
***
Bekasi, 9 Okt 2020
3.31 a.m
Labels: cerpen

Payung Asa
29 October, 2018
•
0 comment {s}

Hujan deras mengguyur kota sepi yang seperti tak bertuan itu. Nampak di pinggir jalan terdapat siluet hitam yang tengah mengenakan payung. Ternyata seorang gadis yang berperawakan semampai tengah berdiri tanpa memedulikan bunyi yang dihasilkan dari butiran hujan yang mengenai payungnya.
Jalanan itu sepi sekali, tak ada kendaraan yang lalu lalang seperti di jalanan kota biasanya. Hujan makin deras, namun gadis itu tetap tak bergeming. Berdiri seolah-olah tulangnya terbuat dari baja. Sudah hampir tiga bulan ia melakukan kegiatan seperti ini, berdiri di pinggir jalan di sudut kota. Kota tua berhias bangunan tua bergaya klasik nampaknya kini menjadi teman barunya. Sepatunya mulai basah dan seluruh tubuhnya mulai kedinginan, ia mulai membiru. Gadis itu aku.
Hari pertama bersama dengan hujan aku berdiri di pinggir jalan yang sama. Orang-orang sudah mengenaliku sebagai sosok tak bernama, ya karena memang tidak ada yang tahu siapa namaku. Tak ada yang menanyakan namaku. Jangankan menanyakan namaku, berjalan melewatiku sambil merekahkan senyumnya saja jarang apalagi menanyakan namaku. Aku seperti alien yang tak mampu berbicara. Ingin bicara dengan siapa? Dengan tembok? Ah nampaknya sebentar lagi tembok-tembok itu akan menjadi saksi bisu dimana aku mengutarakan pendapat melalui telepati antar anggota.
Berdiri, duduk, dan berdiri lagi di trotoar akan menjadi hal terindah di hidupku. Karena di tempat ini, akan ada kenangan manis yang karenanya aku sabar menanti tanpa kepastian. Lampu jalan mulai dinyalakan, sudah malam ternyata. Aku pulang tanpa hasil. Nihil.
Hari kedua, hari ketiga, sampai hampir tiga bulan aku menjadi penjaga trotoar pinggir jalan. Menunggu tanpa kepastian berharap ada keajaiban. Tak peduli seberapa dinginnya udara luar yang menyergap tubuhku. Menunggu dan terus menunggu.
Saat ini, kota tuaku tengah memasuki musim penghujan dimana hampir setiap hari hujan mengguyur kota. Bangunan tua yang dulunya terlihat gagah, kini sudah lesu tak bersemangat hanya ada debu dan sarang laba-laba di sudut-sudut bangunan. Dan hilang ketika terguyur hujan. Sangat sedikit pengendara yang berlalu lalang sehingga kota yang aku tinggali ini dijuluki kota mati. Awan terus memuntahkan airnya dengan amat bersemangat. Sebagian penduduk pindah ke kota lain dengan anggapan akan mendapatkan pekerjaan dan perasaan yang lebih baik.
Wangi air hujan yang jatuh ke tanah mulai tercium, begitu juga pipiku yang telah disapa hujan lebih dulu dari anggota tubuh lainnya. Aku pun membuka payung yang menjadi temanku menanti asa. Di pinggir trotoar yang sepi ini aku berdiri. Beratapkan payung dan beralaskan jalanan trotoar. Seketika aku lihat kendaraan lewat di depanku, berharap sosok yang kunantikan selama ini datang. Sekelebat bayangan indah dibuyarkan oleh teriakan bangunan tua yang seolah-olah mencemoohku dan tak lagi bersahabat denganku. Rok yang aku kenakan sedikit berkibar dikarenakan tiupan angin yang cukup besar.
Lagi-lagi kota ini masih sepi. Rasanya aku ingin pindah. Di sini sepi, pencahayaan terbatas, tak ada suara tertawa anak-anak yang tengah bermain. Satu dua orang ku dapati mereka dengan wajah lesu dan tak bersemangat. Sisanya mungkin ada di rumah atau ada di kota lain yang entah dimana.
Penantianku belum membuahkan hasil hingga akhir tanggal 28 ini. Aku merasa sia-sia saja melakukan hal ini. Seketika aku teringat hari dimana aku mendapatkan surat itu. Bahagianya kala itu dan aku langsung ke luar rumah menunggu di pinggir jalan. Berharap sosok itu datang.
Langit cerah hingga berubah gelap menemaniku menunggu, debu jalan, dan bangunan tua mendukung apa yang aku lakukan ini.
“Kapan ke sini, Bu? Aku lelah menunggu. Penantian ini cukup lama, sudah hampir tiga bulan tapi ibu tidak datang juga.”
“Apakah surat itu hanya untuk membuatku senang saja? Tapi mengapa ibu tega membiarkan aku kedinginan di pinggir jalan raya seorang diri?”
Aku kecewa. Gedung-gedung tua menatapku sedih. Hujan bertambah deras seakan mengerti apa yang aku rasa.
“Aku tidak ingin melakukan hal ini lagi.”
Tak lama, akhirnya aku berbalik arah dan kuputuskan untuk pulang. Bahuku disentuh setelah beberapa langkah menjauh dari trotoar itu. Ketika menoleh, kudapati sosok paruh baya tengah berdiri di dekatku. Ibu!
-Bandung, 08 Nop 2016
Labels: cerpen
"Pembohong!" Celetuk seseorang yang tiba-tiba menghampiriku.
Aku terperangah, karena saat itu aku hanya duduk seorang diri. Celetukan itu membuyarkan semua lamunanku.
"Apa maksudmu?!" Agak geram kutanyakan maksud pertanyaannya.
"Aku tahu kamu tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja. Kenapa kau membohongi banyak orang? Apa kau juga membohongi dirimu sendiri?" Rentetan pertanyaannya membuatku tak nyaman.
"Aku baik-baik saja."
"Bohong!" Ia tetap menyangkal jawabanku.
"Lalu, kau ingin aku menjawab apa, hah? Bilang kalau aku sedang tidak baik-baik saja ke semua orang? Menangis meraung-raung? Curhat ke setiap orang yang aku temui? Mengatakan ke semua orang bahwa akulah manusia yang paling apes dan menyedihkan? Apa seperti itu?" Kali ini rentetan serangan balik dariku membuatnya tak berkutik dan hanya dibalas dengan helaan napas.
"Lagi pula, tak ada gunanya." Imbuhku lagi.
"Jawab pertanyaanku! Bagaimana rasanya bertumpu pada satu kaki?" Kali ini ia bertanya dengan lebih tenang. Bagiku, itu hanyalah pertanyaan retoris yang sebenarnya tak perlu aku jawab.
"Menurutmu?" Aku balik bertanya.
Ia terdiam.
"Tidak mudah. Aku pincang." Tambahku kemudian.
"Lalu, apa yang bisa kubantu?" Tanyanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ah aku tak suka suasana seperti ini, air mata yang sudah kutahan sejak lama bisa-bisa tumpah saat ini juga.
"Tidak ada." Jawabku singkat.
"Jika tak ada yang bisa kubantu, bolehkah aku mendengarkan apa yang menjadikan dadamu sesak? Setidaknya kamu tak menahannya sendirian." Imbuhnya lagi.
"Katamu tadi, aku bertumpu pada satu kaki saja, kan? Aku pincang. Aku, kerap kali merasa tak seimbang. Seringnya aku tersungkur dan sulit untuk tegak berdiri seperti sedia kala."
"Bisakah aku menjadi kakimu yang satu lagi? Aku ingin bisa menjadi tumpuanmu juga." Tanyanya kali ini yang benar-benar membuat kelopak mataku menghangat.
"Tidak perlu. Kau hanya perlu fokus dengan dirimu saja. Biarkan ini menjadi urusanku. Aku sudah bertahan sejauh ini, aku harus terus berjalan walaupun benar-benar tidak mudah." Kuseka beberapa bulir air mata yang mulai turun.
"Ah lemah sekali. Maaf." Kupandangi ia yang tersenyum getir menatapku.
"Lalu apa yang selanjutnya akan kau pilih? Apakah kau akan tetap bertahan dengan satu kaki? Atau mengubah haluan perjalananmu?" Tanyanya lagi yang menyadarkanku.
"Tidak tahu. Tak banyak pilihan. Doakan saja, ya!"
"Apapun hal yang kelak akan menghampirimu, semoga itu adalah takdir terbaik yang telah Allah gariskan untukmu." Perkataannya kembali mengingatkanku akan konsep takdir Tuhan.
"Hei, apa boleh aku menangis sebentar saja?" Tanyaku.
"Boleh. Sangat boleh. Menangislah di bahuku, hingga kau merasa lebih tenang."
"Terima kasih."
Hingga akhirnya aku pun melebur dalam dekap.
Labels: cerpen

Mekar
Setelah Patah
Karya:
Aulia Suci Wardina
“Cahaya! Selamat ya, kamu terpilih
menjadi mahasiswa berprestasi. Bukumu dalam proses terbit, wajahmu hilir mudik
di pamflet kajian, bulan lalu artikelmu juga sudah dipublikasi. Duuuhh
siapa sih yang enggak jatuh hati sama sosok ukhtivis
multitalent ini? Sudah cantik, pintar, baik hati pula. Ah paket
lengkap deh!” Celoteh Kayla membuyarkan lamunanku.
“Eh, uhm, gimana, Kay?” Aku
kikuk mendapati Kayla sudah duduk tepat di depanku.
“Tuh kan, kamu ngelamun.
Pasti enggak nyimak deh tadi aku ngomong apa.” Cubitan Kayla
mendarat tepat di atas punggung tanganku.
“Aw! Sakit, Kay. Maaf, boleh
diulang tadi kamu ngomong apa?”
“Hm. Jujur ya, Aya, aku tuh
kagum banget loh sama kamu. Kamu terlalu sempurna sebagai sahabat
bagiku yang rombeng. Aku suka insecure loh, Ay selama temenan
sama kamu.” Kayla mengulang pembicaraan dengan redaksi yang berbeda dari
sebelumnya, lebih padat dan ringkas.
“Alhamdulillah. Ini semua karunia
Allah, Kay. Kay, mau aku ceritakan sesuatu? Aku belum pernah
menceritakan ini pada siapapun.”
Kayla tersanjung karena Cahaya
bersedia membagikan kisah hidupnya, namun juga bingung dan penasaran dibuatnya.
“Apa, Ay?”
Langit mengabu, sendu. Dari atas
balkon di sore hari, Kayla dengan sabar menunggu Cahaya mulai bercerita. Flashback.
“Perjalanan hidupku sangat berliku,
Kayla. Mungkin kamu gak akan menyangka. Kau tahu, orang tuaku saat ini
adalah orang tua angkat. Eh maksudnya aku diangkat oleh mereka sebagai
anak, terlebih mama. Mama sangat berjasa bagiku.” Cahaya mengawali kisahnya
yang membuat air muka Kayla berubah, namun Kayla tetap mendengarkan dengan
seksama.
“Ayahku meninggal saat aku kelas
tiga SD. Sejak saat itu, ibuku menjadi tulang punggung keluarga dan memiliki
peran ganda. Ibuku pekerja serabutan yang pendapatan hariannya pun tak tentu.
Kami hidup amat sangat sederhana di sebuah rumah kontrakan di dekat rel kereta.
Teman-temanku adalah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, ada juga yang
hidup menggelandang. Kebanyakan dari mereka putus sekolah dan tak terurus. Aku
pun tak jauh beda, namun ibuku berusaha dengan sangat supaya aku bisa sekolah,
seminimalnya, bisa lulus SD. Saat SD aku sangat jauh tertinggal dibanding
teman-temanku. Kemampuan dalam membaca, menulis, dan berhitungku sangat rendah.
Aku sering direndahkan oleh teman-temanku dan tak jarang pula guru-guru
memarahiku karena aku bebal. Tekanan batin? Iya, pasti! Aku melabeli diriku
sebagai “Si Miskin Nan Bodoh”. Seringkali terbersit dalam pikiranku untuk putus
sekolah kemudian mengamen atau meminta-minta saja, toh, aku bisa menghasilkan
uang dengan cepat namun ibuku bersikeras melarangku dan mempertahankanku supaya
aku bisa lanjut sekolah."
"Di kelas lima, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit
tentang pahitnya kehidupan, tak bisa kupungkiri kalau ternyata waktu itu
mendewasakan seseorang. Aku bertekad untuk menjadi siswa yang berprestasi dan
Allah membukakan jalan dengan dikirimnya sosok mulia bernama Bu Aisyah. Beliau
dengan sabar mengajari aku yang masih terbata dalam membaca, gagap dalam
berhitung, dan payah dalam menulis hingga aku mampu melejitkan potensiku di
akhir semester. Aku juara kelas yang pada tahun berikutnya juga aku menjadi
juara umum dengan nilai ujian nasional tertinggi se-Kecamatan. Tak jarang beliau
juga memberikan bantuan berupa materi dan dukungan yang menghantarkanku untuk
bersekolah di salah satu SMP favorit.” Aku menghela napas. Kayla mengubah
posisi duduknya.
“Di SMP, aku dikenal sebagai murid
yang berprestasi. Label “Si Miskin Nan Bodoh” sudah kulepas sejak aku masuk
SMP. Teman-temanku sangat banyak, namun aku mulai tenggelam dengan hingar
bingar dunia. Aku semakin jarang mengingat-Nya. Frekuensi ibadahku menurun.
Hingga akhirnya, Allah menegurku. Aku kehilangan penglihatanku. Duniaku ambruk,
hancur berantakan. Aku hampir gila saat itu dan tidak mau menerima keadaan.
Mengeluh, menghardik, dan meluapkan amarah menjadi keseharianku. Teman baikku,
seperti lenyap ditelan gelapnya penglihatan. Orang-orang silih berganti
menyalamiku dengan iba atas kondisi yang menimpaku. Aku dipindahkan ke sekolah
luar biasa. Sejak saat itu, justru aku sangat merasakan kehadiran ibu yang
juga sahabatku. Ibuku yang mengajarkanku arti keikhlasan yang dengan modal
itulah aku berhasil menerima kondisi diriku sendiri. Aku jatuh dan terpuruk,
namun uluran tangan ibu sangat panjang hingga mampu meraih kejatuhanku. Aku
kembali bertekad menjadi siswa yang berprestasi, demi ibuku.” Kayla mengusap
punggung tanganku memberi semangat dan kembali menyimak dengan serius.
“Kamu pasti bertanya-tanya, mengapa
sekarang aku bisa melihat?” Tanyaku pada Kayla yang diikuti dengan anggukan
kepala tanda setuju.
“Ibuku orang yang sangat baik hingga
dengan kebaikannya sebagai pembuka rezeki dari Allah untuk kami. Saat itu ada
seorang wanita yang ia temui lemas terkulai dan sesak napas di pinggir jalan.
Ia dicopet. Ibuku menghampiri dan membawanya ke rumah sakit dengan sisa uang
yang ia miliki. Kejadian tersebut yang mengantarkan ibuku memiliki pekerjaan
tetap dan wanita tersebut adalah mama. Mama kagum dengan ketulusan hati ibu dan
mungkin iba dengan kondisi kami, terkhusus aku yang buta. Kehidupan ibu dan aku
jauh lebih baik. Mama sangat santun kepada kami dan kagum dengan prestasiku, ia
membiayai segala kebutuhan sekolahku. Ibuku mampu melepas sedikit beban
di punggungnya dan tersenyum lebih lega. Kuusap wajah ibuku dengan lembut,
lekukan di wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Aku pun ikut tersenyum kala itu.”
“Duniaku boleh saja gelap saat itu,
namun Allah menggantikan penglihatan itu dengan kepekaan yang sangat tinggi
pada diriku. Selama itu, aku hanya mampu melukiskan wajah ibu yang tersenyum
dalam imajiku. Dekapannya sangat hangat, aromanya khas sebagai penanda
keseriusannya dalam berjuang melawan pelik kehidupan.” Kubayangkan wajah ibu dan
tumpahlah air mataku. Kayla mengelus bahuku lembut.
“Di akhir masa SMA-ku, tepatnya saat
masa transisi ke perkuliahan, Allah sangat menyayangi aku dan ibu. Aku ingat
sekali, tepat setelah aku mengambil surat tanda kelulusan, mama mengabarkanku
bahwasanya ibu muntah darah dan dilarikan ke rumah sakit. Aku kalut, tidak
biasanya ibu muntah darah. Ibuku didiagnosa menderita lambung kronis yang pasti
dikarenakan ketidakteraturan pola makannya dahulu dimana ia lebih mementingkan
kebahagiaanku, anaknya, daripada rasa laparnya hingga mungkin harus ia rasakan
sakit dan melilit pada perutnya.” Aku sesenggukan.
“Tiga hari di rumah sakit, tak
membuat kondisi ibu membaik. Kata mama, ia terus muntah darah begitupun pada
fesesnya yang bercampur darah.”
“Hingga akhirnya, mataku mampu
kembali terbuka, kali ini bukan dengan suasana gelap, melainkan dengan beragam
warna secara perlahan. Aku bisa melihat. Tak lama berselang, mama memelukku bahagia
dan menyampaikan kabar duka. Ibuku meninggal 2 jam sebelum aku operasi mata.
Ibu ingin sekali aku bisa melihat dunia seperti sedia kala dan mama pun dengan
kemurahanhatinya bersedia mengakomodasi segala biaya operasiku jika kelak ada
pendonor yang bersedia mendonorkan korneanya, ternyata pendonor tersebut adalah
ibu. Pilu. Aku hanya bisa mematung. Duniaku seperti hancur kesekian
kalinya.” Aku tak kuasa, aku menangis setengah menjerit. Kayla pun memelukku erat.
“Dalam kesakitannya, ibu masih
mengkhawatirkanku, hingga ibu memohon dengan sangat kepada mama untuk
mengangkatku sebagai anaknya dan mama pun menyetujui. Hubungan keduanya bukan
lagi sebatas hubungan majikan dan asistennya, lebih jauh dari itu seperti kakak
dan adik.”
***
Ingatanku melayang bersamaan dengan
apa yang telah kuceritakan pada Kayla. Pada saat itu, mama memberikan surat
titipan ibu yang kemudian segera kubaca.
“Cahaya tanpa cahaya tak melulu
gelap gulita. Cahaya di atas cahaya, penuntun hati memahami semesta. Hati yang
bersih tanpa hingar bingar semata, murni mengais asih-Nya. Cahaya, cahaya hati
ibu. Ibu bahagia jika kamu bisa membaca surat ini. Jangan larut dalam kesedihan
ya, nak. Dalam doa-doa panjang, ibu berharap supaya kelak Cahaya bisa menjadi
cahaya bagi sekitar yang banyak memberikan kebermanfaatan.”
Lagi, aku terguncang. Surat tersebut
kembali menyadarkanku bahwa ibu telah tiada. Kuhampiri jasadnya yang terbujur
kaku, kudapati wajahnya indah terlukis senyum.
“Akhirnya aku bisa melihat ibu lagi
setelah tiga tahun aku hanya bisa meraba muka ibu saja. Ibu masih tetap cantik
seperti dulu.”
Kupeluk lalu kubelai wajah ibu
dengan belaian lembut untuk terakhir kalinya. Aku turut memandikan, mengafani,
serta menyolati jenazah ibu, lalu kubisikkan tepat di telinga ibu.
“Bu, terima kasih atas segala
pengorbanan yang ibu berikan untuk Aya, anakmu. Hingga akhir hayatmu, ibu masih
memikirkan kebahagiaan Aya, ibu masih berusaha memberikan apa yang bisa ibu
berikan untuk Aya. Selama ini, Aya lebih sering merepotkan ibu dan takkan bisa Aya
balas setiap perjuangan ibu. Bu, walaupun ruh ibu telah berpisah dari jasad,
namun ibu akan selalu ada di relung hati Aya. Bu, semoga Aya dapat menjadi seseorang
yang tidak hanya mampu memberikan kebanggaan di dunia, namun juga bisa menjadi
amal jariyah di akhirat kelak. Bu, Aya akan selalu ingat dengan ibu. Aya bertekad
untuk terus taat kepada Allah, dan menjadi bagian dari keluarga-Nya, semoga
Allah pertemukan ibu, ayah, dan Aya di syurga-Nya kelak dengan dipakaikan jubah
kehormatan. Aya ingin menebar manfaat lebih luas lagi, Aya ingin membantu
sesama, Aya tidak ingin menyia-nyiakan segala perjuangan ibu, semoga Aya bisa
menjadi Muslimah berdaya guna, bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi
banyak orang.”
***
“Ternyata kisah hidup Aya luar
biasa. Allah pasti sudah menakar untuk memberikan semua ini bagi Aya dan
terbukti Aya berhasil sabar menaiki setiap proses pendewasaan diri itu. Atas
kesabaran Aya, Allah meninggikan derajat di dunia, salah satunya lewat ilmu.”
Perkataan Kayla mampu meredam gemuruh di dada. Aku pun menyeka bulir-bulir air
mata yang masih membasahi pipi.
“Terima kasih, Kayla.”
“Iya, sama-sama. Berkat tekad dan
dukungan yang luar biasa menjadikan Aya sebagai sosok yang luar biasa yang aku
juga sangat terinspirasi darimu. Seorang muslimah yang mampu mewujudkan setiap
mimpi dalam kehidupannya: mahasiswa berprestasi, ukhtivis yang mampu
mendayakan banyak orang, penulis ulung yang tajam dan kritis, namun banyak juga
yang menyentuh hati, menggugah dan mengubah pembacanya. Aya supel, cantik, dan
lembut. Di sela-sela kesibukan, Aya masih meluangkan waktunya sebagai hamba: bermujahadah
memberi kado special untuk kedua orangtua dengan menghafalkan dan
mengamalkan kalam-Nya. Hayooo… kurang apalagi aku mengobservasi kamu? Hehehe.”
“Wah, jangan-jangan kamu
intel ya?” Aya terkekeh mendengar celoteh Kayla yang baginya terlalu
berlebihan.
“Bagiku, pujian itu ujian. Kita
harus senantiasa menjaga niat dalam setiap keberjalanan hidup. Untuk apa kita
berjuang dan untuk siapa? Semoga hanyalah untuk Allah, Rasul, orang tua, bangsa,
dan agama. Aamiin.”
“Aku juga ngefans banget loh sama
kamu, Kay!” Seruku.
“Ah masa iya?” Ledek Kayla.
“Iya serius loh, tapi nanti
kalau kuberi tahu, kamu malah jadi geer lagi. Hehe. Nanti aja
ya, kapan-kapan. Sudah maghrib, yuk masuk.”
Percakapan sore itu ditutup rapat
oleh tenggelamnya matahari yang semburatnya malu-malu di ufuk barat.
Patah bukan berarti mati.
Patah bukan berarti sepi.
Patah tak melulu tentang meratapi.
Akan ada sesuatu yang mekar setelah
patah.
Demi kehidupan abadi.
---
Draft tulisan 14/11/2020
Labels: cerpen
"Cinta, kemarilah. Aku sudah lelah, ingin sekali rebah."
***
Jarum jam membujur ke angka 12, tepat tengah malam. Sepasang mata bola yang sayu dengan kantong matanya yang payah nampak lemah menatap langit-langit kamar.
"Fiuuhhh". Helaan napasnya yang berat mencerminkan keadaan batinnya.
Gadis itu bangkit dan termenung di sudut kasurnya. Tatapan matanya kosong, namun pikirannya kalut, ramai, juga bising. Hatinya bergemuruh, kakinya lunglai. Bagaimana tidak, sudah dua hari ini tak ada satu suap makanan pun ke dalam mulutnya. Hujan lebat malam ini, menusukkan angin malamnya dengan syahdu dari sela-sela dinding kamar, ventilasi dan jendela.
***
"Aku ini siapa? Apakah aku seperti apa yang mereka selalu teriakkan kepadaku? Aku tak bisa berkilah, pun aku akhirnya diam saja. Aku tak ingin jika aku membela diri justru mereka menjauhiku." Pikirannya berkelana, mengingat-ingat setiap catatan kehidupannya.
"Tap tip tap".
Jari jemarinya digerakkan di atas tombol saklar lampu tidurnya. Merebah, menarik selimut dan membukanya lagi. Gamang. Ia tak kunjung tidur jua. Setelah beberapa menit kebingungan, akhirnya ia paksakan untuk menutup kedua matanya.
***
"Tolong, tolong, jangan ikat aku! Jangan bunuh aku! Tolong, lepaskan aku, Nadira!" Nadira tersengal melihat sosok lain dirinya berwajah bengis.
"Untuk apa, Nadira? Lihat, apa gunanya hidupmu? Sebaiknya kau sudahi saja! Ada atau tanpa adanya dirimu, itu sama saja bagi mereka. Kau tetap sampah masyarakat!"
"Tolong, aku tidak mau! Tolong lepaskan aku! Toloooooonggggggg!"
Ia terbangun. Wajahnya pucat pasi, keringat mengucur deras. Kelumit pikirannya sebelum tidur, ternyata menariknya terlalu dalam hingga ke alam bawah sadar. Tatapannya menyapu ke sekeliling ruang kamarnya yang kemudian mendapati sebuah barang.
"Ah dapat!"
"Maafkan, Nadira, ayah, ibu." Belum sempat ia sayatkan cutter ke tangannya, ingatannya kembali dilayangkan pada pertemuan mentoring sebelumnya di sudut masjid kampus.
"Ukhti fillah, kita semua ingat bukan dengan firman-Nya dalam ayat terakhir surah Al-Baqarah yang menyebutkan bahwasanya, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan batas kesanggupannya? Ya begitulah Ia, jika Allah memberi ujian kepada kita selaku hamba-Nya, maka Allah tahu dan yakin bahwa kita sanggup untuk memikulnya."
"Ujian itu sarana untuk menaikkan derajat kita di hadapan-Nya dengan selalu teruntai sabar dan syukur. Ingatkah bagaimana kisah Nabi Zakaria yang telah berusia senja namun belum juga dikaruniai keturunan? Beliau tetap berprasangka baik atas setiap takdir-Nya, hal tersebut diabadikan dalam QS. Maryam ayat 4 bahwasanya beliau belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. Doa yang kerap kali dilangitkan, doa sebagai wujud persaksian seorang hamba atas setiap kelemahannya di hadapan Tuhan. Ingat, akhwat, Ia sangat dekat. Katakan pada masalah yang besar, bahwa aku punya Allah yang Maha Kuasa. Bukankah penilaian seorang manusia itu hanya didasarkan pada dua yakni pada letak iman dan taqwanya? Semua sama di hadapan-Nya tak peduli miskin atau kayanya, cantik atau buruk rupanya, laki-laki maupun perempuan. Kesempatan itu terbuka luas untuk kita selaku hamba-Nya."
***
Ia rasakan kelopak matanya menghangat, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang bersih. Ia lemparkan cutter yang telah digenggam erat dan bersegera mengambil air wudhu.
"Dini hari ini adalah titik balik. Bukti kesungguhanku sebagai hamba-Nya. Aku mencintai diriku, karena aku yakin Allah menciptakan setiap hamba-Nya dengan sebaik-baik bentuk. Ya aku yakin itu, bismillah. Semoga Allah bantu istiqomahkan perjalanan ini. Untuk yang tercinta, Nadhira Arsyi Azzahra, perjuangan ini untukmu."
Di atas hamparan sajadah dalam malam yang sunyi, gadis itu akhirnya larut dalam bermunajat kepada Tuhannya.
***
Salah satu tulisan yg dibukukan oleh Ellunar Publisher, alhamdulillah.
Labels: cerpen
Seseorang mengetuk pintu di sudut sana. Pemilik rumah merasa bingung, tak tahu akan bagaimana. Sosok asing.
"Siapa tamu itu?""Untuk apa ia datang kemari?"
Sang tamu mengetuk pintu untuk menyampaikan niat baiknya yang telah dikubur sejak lama. Tapi sayang, sosoknya tak kentara di pandang mata sang pemilik rumah.
"Ah hanya bayang-bayang saja, bisa jadi gurauan semata." Intipnya di balik jendala.
Namun ada yang berbeda pada dirinya. Hal sederhana itu, membuatnya terus berpikir untuk apa dan siapa. Ternyata sia-sia saja, ia tak berani menghadirkan sosok dan rupanya. Sosok itu hanya mengetuk pintu yang jauh di sudut sana. Entahlah.
"Baiknya, kututup rapat saja. Kutinggikan pagar, dan kurapikan sudut-sudut yang hilang supaya tak mudah orang mengintip apa yang ada di balik pagar."
"Kututup pintu di bumi dan kuketuk pintu di langit. Bila saatnya tiba, akan kubuka pintu itu entah untuk siapa. Semua akan indah atas Izin-Nya."
Labels: cerpen, Random
Gelap. Gang ini gelap. Penglihatanku
remang-remang, namun masih mampu kudapati seberkas cahaya di ujung gang.
Badanku terasa remuk, pelipisku dibanjiri darah, sudut bibirku terasa nyeri
sekali.
“Sebentar, aku ini dimana?”
“Apa aku masih hidup atau sudah
mati?”
Aku mampu kembali sadar. Kutatap
sekeliling, sepi. Kudapati seorang perempuan tergeletak dan tak sadarkan diri
tepat beberapa meter di depanku.
“Sarah!” Pekikku kaget.
“Dalam ketidakberdayaanku kali ini,
aku percaya Engkau ada. Engkau memberi kesempatan bagiku sekali lagi untuk
tetap bernapas. Kau masih membiarkanku hidup. Tolong beri aku kekuatan, aku
tidak akan biarkan Sarah sekarat!” Aku mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaga
yang dimiliki dan segera kuraih tubuh Sarah yang penuh lebam dan bibir pucat.
“Tolong! Tolong beri kami kesempatan
satu kali lagi, Ya Allah! Izinkan kami untuk menjadi pejuang dalam menegakkan
agama-Mu.” Jeritku penuh harap dari lubuk hati terdalam.
***
“Seorang perempuan masa kini, udah
bukan jamannya lagi ada di ketiak laki-laki yang hanya mengurusi sumur, dapur,
dan kasur. Ciiih!” Seorang perempuan dengan rambut tergerai mengenakan
kaos oblong putih dengan beraninya berbicara di suatu debat terbuka.
“Dimana letak keadilan Tuhan untuk
kami para perempuan? Kami ingin kebebasan! Jangan apa-apa agama, ini-itu agama,
duh capek deh! Agama kok ngatur banget ya!”
“Kami ini menuntut kesetaraan!
Perempuan ditindas, dilecehkan, dibatasi haknya, dan hanya dijadikan sebagai
objek bagi laki-laki. Apakah kalian setuju puan?” Lanjutnya lagi dan
dilanjutkan dengan soraknya yang sangat bergelora.
“Setuju!”
“Ya, betul!”
“Sangat betul kak! Agama menyulitkan
saja!”
Suasana menjadi ramai riuh seperti
sedang menabuh genderang perang saja. Aku terbawa suasana juga, menggebu-gebu,
dan ingin sekali menyuarakan tentang kebebasan perempuan. Selama ini aku
melihat ibu hanya menjadi korban kekerasan ayah di rumah, ibu pula yang menjadi
tulang punggung keluarga. Aku tak tega jika mengingat kejadian tersebut dan
kini beliau telah tiada.
Aku murka dan sangat kesal dengan
ayahku yang bagiku beliau adalah penyebab kematian ibu. Aku merasa Tuhan tidak
adil menuliskan garis kehidupanku sehingga kuputuskan untuk mencari tempat pelarian
yang bisa memberikan empati atas apa yang sedang aku rasakan. Ya, aku bergabung
ke suatu paguyuban yang membela hak-hak perempuan atau sering dibilang dengan
perkumpulan para feminis. Bak sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, aku
pun dikenalkan dengan paham-paham kebebasan yang lain dan dengan modal itulah
aku tak merasa diikat oleh aturan atas kebebasan diriku sendiri.
Aku bebas. Tubuhku adalah
otoritasku. Aku bebas berekspresi, hingga puncaknya, aku meyakini bahwa jilbab
yang selama ini kupakai hanyalah budaya dari suatu negara. Kutanggalkan
jilbabku sebagai wujud solidaritasku dalam keberagaman yang tak bersekat-sekat,
“Gue, Katrina Alika yang akan
bersuara lantang mengenai pembelaan hak perempuan di Negeri Antah Berantah ini!
Kami kuat karena bersatu. Tidak ada satu pihak pun yang mampu menindas kami!”
Tekadku sangat bulat setelah 2 bulan bergabung di paguyuban tersebut.
***
Sore itu, seperti biasanya kami
berkumpul di suatu taman kota untuk bertemu sekaligus membahas berbagai isu
terkini dan langkah-langkah pergerakan di kemudian hari, apalagi kalau bukan
untuk mencapai tujuan bersama.
“Hei, gue bawa temen baru nih!
Dia rada pemalu, tapi kayanya mah garang juga nih. Boleh lo
langsung kenalin diri aja.” Rangkulku ke anggota baru tersebut.
“Mmm… Kenalin, namaku
Sarah Maisarah asalnya dari daerah Tanah Lapang. Aku seneng banget bisa
gabung sama temen-temen di sini. Kalian keren seperti wonderwomen.”
Sarah tersipu malu memperkenalkan diri dengan logat kedaerahannya.
“Jadi gimana gais terkait RUU
yang pro sama kita bakal disahkan kan? Gue tuh gangerti ya sama
orang-orang di negeri ini. Ya coba dong open minded gitu. Udah mah
pemikirannya kolot terus ngotot pula! Bikin kita ngeluarin tenaga
ekstra kan. Masa terkait sexual consent aja diributin,
ya gak sih? Toh tubuh ini tubuh kita sendiri gitu loh, ya kalo
mau ngapa-ngapain harus dapat persetujuan pemiliknya lah!” Aku
mengawali pembicaraan.
“Emang sexual consent itu apa
sih, Rin?” Sarah bertanya dengan polosnya.
“Oh iya, gue lupa.
Sarah kan member baru ya, hehe, gue udah kejauhan angkat
bahasannya.”
“Jadi gini, Sar, gampangnya
tentang sexual consent merupakan persetujuan dari kedua belah pihak buat
berhubungan seks. Jadi gaada keterpaksaan gitu loh.”
“Wah bener tuh, Rin.” Sarah
menyetujui pernyataanku.
“Tapi rin, apakah ini ada kaitannya
dengan ikatan pernikahan?” Pertanyaan Sarah kali ini mulai kritis.
“Sependek pemahaman gue sih, ga
ngaruh. Selama suka sama suka dan saling setuju, why not?
Hehehe.”
“Oalah gitu ya, Rin.
Rin tapi bukannya hal itu tuh masuknya ke kategori dosa besar ya
kalau belum ada ikatan pernikahan? Zina, Rin.”
“Aelah, Sar. Lo tuh
polos banget sih! Ya gapapa dong, kan suka-suka mereka.
Kita kan pendukung kebebasan. Kita masih muda, udahlah happy-happy
aja, toh dosa urusan mereka. Ternyata pemikiran kamu masih konservatif ya, hahaha.”
“Maklum, Rin, dia kan baru. lo
juga dulu pas baru datang gitu kan? Haha. Tapi kayaknya
lo lebih bar-bar deh.” Ledek salah seorang teman terkait jawabanku.
Jawabanku sempat membuat pergolakan
di hati Sarah. Keluarga Sarah termasuk keluarga yang taat aturan dan dekat
dengan agama. Aku diceritakan olehnya, bahwa beberapa pamannya merupakan ustadz
ternama di daerahnya.
“Oh iya, bulan depan ada diskusi
lagi tuh, rivalnya ya lawan kita. Orang-orang konservatif. Lo
siap jadi pembicaranya Rin?”
“Sure, why not?”
***
Perhelatan diskusi terbuka akhirnya
tiba juga. Meja dan kursi sudah disusun rapi, audiens mulai berdatangan, begitu
pula pemateri sudah stand by di atas panggung dengan mengusung tema
“Bagaimana Peran Kesetaraan Gender Bagi Kemajuan Negeri Antah Berantah?”. Di
pihak pro ada Katrina sebagai pembicara dan di pihak kontra ada Isma dari
Komunitas Emak-emak Tahan Banting. Sesi diskusi dimulai tepat waktu.
“Baik, kita akan memulai dengan
pemahaman kesetaraan gender itu sendiri. Boleh, Kak Katrina untuk lebih dulu
memaparkannya.”
“Baik, terima kasih moderator telah
mempersilakan saya untuk mengawali diskusi. Ya. Sebagaimana kita tahu, selama ini
perempuan sangat sering dipandang sebelah mata, direndahkan, dan dilecehkan
karena merupakan kaum yang lemah. Kami mengusung paham kesetaraan gender yang
juga bentuk penyetaraan hak-hak perempuan di segala lini. Perempuan bukan lagi
sebatas rice cooker atau kain pel. Perempuan mampu berdaya guna. Dengan
adanya dukungan bagi para perempuan untuk berkarier akan sangat mungkin untuk
turut memajukan Negeri Antah Berantah ini. Yang pasti juga, kita tidak banyak
diatur sehingga kita lebih merasa enjoy untuk berkarya.” Aku memaparkan
dengan sangat menggebu.
“Baik, terima kasih kepada kak
Katrina, selanjutnya dipersilakan kepada Kak Isma untuk menyampaikan
pendapatnya.”
“Bagi kami, posisi antara laki-laki
dan perempuan bukan terkait dengan suatu kesetaraan karena kami menganggap itu
hanyalah sudut pandang materialis saja, lebih tepatnya posisi laki-laki dan
perempuan adalah serasi pada perannya masing-masing. Tanpa adanya pengekangan
dari salah satu pihak membuat keduanya mampu mengoptimalkan segala potensinya.
Laki-laki dengan karakternya yang kuat sebagai pelindung dan pekerja keras,
perempuan dengan karakternya yang lembut dan penyayang mampu memberikan
kehangatan bagi sesamanya, anak-anaknya, para orang tua, dan suaminya. Sangat
salah jika opini-opini di luar sana menyatakan bahwa islam tidak adil terhadap
kaum perempuan. Dalam berislam, tidak ada diskriminasi. Laki-laki dan
perempuan, bagaimanapun warna kulitnya, bentuk rambutnya, daerah asalnya, semua
berhak mendapatkan pahala sesuai dengan amal yang dikerjakannya untuk meraih
derajat taqwa. Jika kita tengok kembali bagaimana perjalanan Khadijah ibunda
kita, beliau merupakan pedagang yang sukses, beliau terpandang, namun beliaulah
yang melengkapi Rasulullah. Beliau berkorban hartanya tidak lebih sedikit dari
kaum laki-laki sebagai bentuk perjuangannya. Beliau yang memberi ketenangan
bagi Rasul, beliau mampu mengembangkan skill-nya. Perempuan memiliki
peran yang sangat besar bagi kemajuan suatu peradaban, karena dari rahim-rahim
terbaik akan melahirkan generasi yang terbaik juga. Janganlah kita saling
menuntut dan menghakimi, bukankah dengan keserasian akan tercipta harmoni?
Semua telah diatur dan ditakar secara adil sebagaimana porsinya. Saya seorang
muslim, saya sangat bangga dan yakin dengan agama saya, Islam yang sempurna
tanpa cacat, mungkin dalam keberjalanannya kerap kali manusianya yang salah,
begitu juga saya yang tak luput dari dosa” Panjang lebar Isma menyampaikan
pendapatnya, hatiku terketuk.
“Kamu juga seorang muslim, Rin,
namun mengapa tidak kau temukan kebanggaan seperti Isma akan Islam?” Renungku
dalam hati.
Diskusi berakhir setelah 1,5 jam
berjalan dan keduanya teguh mempertahankan opininya terkait kesetaraan gender
untuk kemajuan Negeri Antah Berantah di masa mendatang.
Ada yang berbeda setelah perhelatan
itu, Sarah secara konsisten menyatakan sikap untuk keluar dari paguyuban
tersebut karena hati nuraninya meminta untuk kembali ke jalan yang ia tempuh
sebelumnya, jalan islam yang syamil. Hatiku pun bergejolak. Aku tak menyangkal
perkataan Isma bertubi-tubi menembus ke relung hati dan membuatku terus
merenung. Aku yang menuhankan kebebasan terus berpikir akan kebenaran yang
sesungguhnya. Aku mulai mempelajari apa yang mungkin terlewat dalam
kehidupanku. Selama sepekan ini aku sering berkonsultasi dengan ustadzah di
masjid yang tak jauh dari tempat kost-ku, aku merasakan ketenangan atas setiap
jawaban yang beliau sampaikan. Sedikit demi sedikit, aku mulai melepas
kegiatanku di paguyuban tersebut dan mulai menarik diri.
“Aku merasa jauh lebih tenteram. Ya
Allah, maafkan aku yang telah jauh dari jalanmu. Bimbing aku untuk kembali.”
Doaku dalam hati.
Terhitung lima hari sejak aku dan
Sarah resmi mengundurkan diri, memilih jalan kami sendiri. Selepas shalat isya,
kami yang mulai membiasakan shalat tepat waktu di masjid merasakan keganjilan
ketika memasuki gang sempit dan gelap sebelum sampai ke tempat kos kami. Kami
dihadang oleh 2 sosok lelaki tinggi besar yang merupakan bodyguard mama.
Mama adalah panggilan kami kepada senior di paguyuban dahulu. Gang itu memang
sangat sepi dan minim pencahayaan. Kami ditawari untuk kembali ke paguyuban
dengan sejumlah imbalan. Kami menolak, karena kami yakin dengan identitas kami
sebagai muslimah akhir zaman yang berusaha memegang teguh ketaatan pada-Nya.
Keyakinan kami diganjar dengan pukulan. Kami kalah. Badan dan tenaga kami tak
mampu mengelak setiap pukulan bertubi-tubi.
“Ya Allah, jika pun ini akhir dari
kehidupan kami, jadikan kami seorang muslimah terbaik di sisi-Mu, matikanlah
kami dengan husnul khatimah. Ampuni dosaku selama ini. Sungguh aku sudah amat
jauh darimu. Aku malu atas semua perbuatanku terdahulu. Tolong akui diriku
sebagai hamba-Mu.” Lirihku dengan napas tersengal.
“Ya Allah, saksikan bahwa kami
seorang muslim. Kami tidak setangguh Sumayyah atau Nusaibah, namun sungguh kami
sangat mengemis rahmat dan ampunanmu, Ya Rabb.” Dihadapanku, tergeletak Sarah
dengan mata terpejam dan bibir yang kelu namun masih dapat kudengar sedikit
doanya yang lirih dan rintihan kesakitannya.
Dzikir dan dzikir terus dilantunkan,
tak sadar, mata kami terpejam.
Cinta
kebebasan tak bertuan adalah semu
Hamba
dan Tuhannya
Cinta
dan ampunan-Nya
Takut
dan harap hanya pada-Nya
Kami
seorang Muslimah akhir zaman
Penuh
fitnah dan tipu daya, halang juga rintang
Semoga
senantiasa terjaga dan mampu menjadi penegak kalimat-Nya
Menjadi
umat terbaik yang dipilih secara khusus oleh-Nya
Kamu
mungkin sudah terlalu jauh mengembara, mari lekas pulang
Kita
berkumpul di Jannah-Nya.
***
Dalam rangka mengikuti Alqolam Writing Festival
Labels: cerpen
Dini hari.
Suara bising bercampur riuh yang kalut membangunkanku.
"Lia, bangun! Banjiiiirrrrr...!"
Akupun bangun dan tergopoh melihat kondisi rumah yang sudah digenangi air, terlebih di ruang tamu dan salah satu kamar. Membantu sebisaku, seperti biasa, ditambah sedikit kepanikan dan kondisi orang yang terbangun karena kaget. Aku mencari kain pel namun tak kutemui juga karena kondisi di depan rumah sedang dipenuhi oleh alat-alat bangunan. Ya kutelusuri dari depan hingga belakang rumah, namun nihil.
"Baiklah, kupakai ini saja!" Kutarik sprei yang kadung basah.
Kulihat ibu sudah bersiaga menghadang genangan yang sangat mungkin menjadi jauh lebih banyak debit airnya, di depan pintu. Ayahku sudah bersiaga di bangunan baru untuk membuka celah-celah resapan air.
Melodi yang berasal dari nyanyian katak khas seperti memanggil hujan disertai guyuran air yang ditumpahkan langit. Syahdu, membuat siapapun untuk memilih tetap pada kasurnya masing-masing tapi tidak buatku.
Genangan air yang masuk itu sukses melakukan ekspansi. Aku mengurus genangan di kamar dan ibu di ruang tamu. Barang2 pun dipindahkan dengan cepat supaya tidak semakin basah, adik-adik pun segera dievakuasi ke kamar belakang.
Drama penyelamatan kamar dan ruang tengah terus berlangsung.
"Lia coba lihat abi di luar! Kayaknya abi memanjat ke dekat rumah tetangga."
Kuturuti saja seruan ibuku. Jelas saja, kudapati ayah sedang bergulat melihat bagian mana yang harus segera ditutup untuk mencegah banjir lebih parah.
"Lia, tolong ambilkan banner!"
"Yang mana bi?" Sambil kucari ditumpukan barang di depan rumah.
"Pakai itu saja, banner yang berdiri."
"Oh, x-banner!"
Kuserahkan banner tersebut dan kudapati beliau sedang berjuang memasangkan di bawah lebatnya hujan dini hari. Aku pun masuk untuk kembali membersamai ibuku. Mengupayakan untuk air bisa surut dan tidak lagi menggenang. Sementara itu, kudengar suara ayahku mengetukkan benda tumpul ke tanah, sebagai upaya untuk membuat resapan air.
Pertunjukan malam ini, bak episode rintik sendu bagiku. Kulihat bagaimana perjuangan ayahku menerobos hujan dan ibuku siap siaga membantu di tempat yang berbeda. Hatiku mengelu.
***
Seketika kuteringat peristiwa kebakaran yang hampir membumihanguskan rumah kami. Saat itu sedang kumpul keluarga, tiba-tiba kepulan asap memenuhi seisi rumah yang ternyata sumbernya dari dapur. Ternyata ibuku lupa mematikan kompor yang di atasnya terdapat penggorengan dengan minyak panas yang telah berubah wujud. Kutengok ke belakang, dan kudapati api sudah menyala-nyala yang sedikit lagi, sampai ke atap rumah. Qadarullah ayah dan paman dengan tenang dan heroik berusaha memadamkan api tersebut. Dimulai dari dicabutnya gas dari regulator dan menjauhkannya dari sumber api, dilanjutkan dengan ditutupinya kompor yang dipenuhi api dengan lap (keset) basah yg dicemplungkan ke got depan rumah terlebih dahulu.
Suasana kumpul keluarga yang semula penuh dengan canda tawa, berubah menjadi situasi yang menegangkan. Para ibu dan anak bersahutan satu sama lain karena panik. Aku, diam saja namun aku berdoa supaya api segera padam dan kebakaran dapat dihindarkan. Atas izin dan pertolongan-Nya, api berhasil padam tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti walaupun ingatan itu masih membekas kuat hingga hari ini.
***
Dua kejadian itu mengingatkanku dengan cuplikan kisah heroik perjuangan seorang laki-laki yang selama ini kupanggil abi yang dengan tanggung jawabnya yang besar menjadi pelindung bagi anak dan istrinya. Laki-laki dengan fisiknya yang lebih kuat dan emosinya yang terkendali memang secara fitrah menjadi sosok pelindung bagi wanita, anak kecil, dan orang tua. Ratusan bahkan ribuan kali kusaksikan kisah heroik perjuangannya dengan ibuku yang selalu membersamai di belakangnya sejak aku dalam kandungan hingga saat ini. Berkali-kali kupandangi punggung kedua orang tuaku satu-persatu, bersamaan dengan itu doa kupanjatkan untuk dua orang baik sebagai perantaraku ada di dunia ini. Betapa baiknya mereka yang selalu mendahulukan kepentingan anaknya di atas kepentingan pribadi.
"Ya Allah, ampuni dosa kedua orang tuaku dan sayangilah ia sebagaimana mereka menyayangiku sedari kecil, jagalah mereka dan adik-adik dengan sebaik-baiknya penjagaan dari-Mu. Jagalah kami dalam ketaatan kepada-Mu. "
Air mataku pun meleleh.
Jika ditanya terkait bagaimana kriteria calon pasanganku, dengan lugas aku akan menjawab, "Yang seperti abiku dan semoga yang lebih baik lagi dari beliau!"
Ayah dan ibuku merupakan role model bagiku. Keduanya yang senantiasa menyiramkan kasih dan kehangatannya kepada kami anak-anaknya, mengikutsertakanku yang dituakan daripada adik-adik pada tempaan-tempaan untuk menguatkan pundak yang lemah.
Sebagaimanapun kuatnya seorang wanita, pasti selalu membutuhkan sosok pelindung yakni makhluk bernama laki-laki dengan segala kebaikan budi dan tanggung jawabnya. Ya, laki-laki dan perempuan itu lebih cocok disandingkan dengan diksi yang serasi, bukan melulu tentang setara.
Yuk, berikan yang terbaik untuk kedua orangtua kita baik dari perlakuan, perkataan maupun doa.
Pun jika salah satu atau duanya telah tiada, mari kita langitkan doa dengan hati yang sebenar-benarnya tulus meminta kepada-Nya.
***
Bekasi, 9 Okt 2020
3.31 a.m
Labels: cerpen

Hujan deras mengguyur kota sepi yang seperti tak bertuan itu. Nampak di pinggir jalan terdapat siluet hitam yang tengah mengenakan payung. Ternyata seorang gadis yang berperawakan semampai tengah berdiri tanpa memedulikan bunyi yang dihasilkan dari butiran hujan yang mengenai payungnya.
Jalanan itu sepi sekali, tak ada kendaraan yang lalu lalang seperti di jalanan kota biasanya. Hujan makin deras, namun gadis itu tetap tak bergeming. Berdiri seolah-olah tulangnya terbuat dari baja. Sudah hampir tiga bulan ia melakukan kegiatan seperti ini, berdiri di pinggir jalan di sudut kota. Kota tua berhias bangunan tua bergaya klasik nampaknya kini menjadi teman barunya. Sepatunya mulai basah dan seluruh tubuhnya mulai kedinginan, ia mulai membiru. Gadis itu aku.
Hari pertama bersama dengan hujan aku berdiri di pinggir jalan yang sama. Orang-orang sudah mengenaliku sebagai sosok tak bernama, ya karena memang tidak ada yang tahu siapa namaku. Tak ada yang menanyakan namaku. Jangankan menanyakan namaku, berjalan melewatiku sambil merekahkan senyumnya saja jarang apalagi menanyakan namaku. Aku seperti alien yang tak mampu berbicara. Ingin bicara dengan siapa? Dengan tembok? Ah nampaknya sebentar lagi tembok-tembok itu akan menjadi saksi bisu dimana aku mengutarakan pendapat melalui telepati antar anggota.
Berdiri, duduk, dan berdiri lagi di trotoar akan menjadi hal terindah di hidupku. Karena di tempat ini, akan ada kenangan manis yang karenanya aku sabar menanti tanpa kepastian. Lampu jalan mulai dinyalakan, sudah malam ternyata. Aku pulang tanpa hasil. Nihil.
Hari kedua, hari ketiga, sampai hampir tiga bulan aku menjadi penjaga trotoar pinggir jalan. Menunggu tanpa kepastian berharap ada keajaiban. Tak peduli seberapa dinginnya udara luar yang menyergap tubuhku. Menunggu dan terus menunggu.
Saat ini, kota tuaku tengah memasuki musim penghujan dimana hampir setiap hari hujan mengguyur kota. Bangunan tua yang dulunya terlihat gagah, kini sudah lesu tak bersemangat hanya ada debu dan sarang laba-laba di sudut-sudut bangunan. Dan hilang ketika terguyur hujan. Sangat sedikit pengendara yang berlalu lalang sehingga kota yang aku tinggali ini dijuluki kota mati. Awan terus memuntahkan airnya dengan amat bersemangat. Sebagian penduduk pindah ke kota lain dengan anggapan akan mendapatkan pekerjaan dan perasaan yang lebih baik.
Wangi air hujan yang jatuh ke tanah mulai tercium, begitu juga pipiku yang telah disapa hujan lebih dulu dari anggota tubuh lainnya. Aku pun membuka payung yang menjadi temanku menanti asa. Di pinggir trotoar yang sepi ini aku berdiri. Beratapkan payung dan beralaskan jalanan trotoar. Seketika aku lihat kendaraan lewat di depanku, berharap sosok yang kunantikan selama ini datang. Sekelebat bayangan indah dibuyarkan oleh teriakan bangunan tua yang seolah-olah mencemoohku dan tak lagi bersahabat denganku. Rok yang aku kenakan sedikit berkibar dikarenakan tiupan angin yang cukup besar.
Lagi-lagi kota ini masih sepi. Rasanya aku ingin pindah. Di sini sepi, pencahayaan terbatas, tak ada suara tertawa anak-anak yang tengah bermain. Satu dua orang ku dapati mereka dengan wajah lesu dan tak bersemangat. Sisanya mungkin ada di rumah atau ada di kota lain yang entah dimana.
Penantianku belum membuahkan hasil hingga akhir tanggal 28 ini. Aku merasa sia-sia saja melakukan hal ini. Seketika aku teringat hari dimana aku mendapatkan surat itu. Bahagianya kala itu dan aku langsung ke luar rumah menunggu di pinggir jalan. Berharap sosok itu datang.
Langit cerah hingga berubah gelap menemaniku menunggu, debu jalan, dan bangunan tua mendukung apa yang aku lakukan ini.
“Kapan ke sini, Bu? Aku lelah menunggu. Penantian ini cukup lama, sudah hampir tiga bulan tapi ibu tidak datang juga.”
“Apakah surat itu hanya untuk membuatku senang saja? Tapi mengapa ibu tega membiarkan aku kedinginan di pinggir jalan raya seorang diri?”
Aku kecewa. Gedung-gedung tua menatapku sedih. Hujan bertambah deras seakan mengerti apa yang aku rasa.
“Aku tidak ingin melakukan hal ini lagi.”
Tak lama, akhirnya aku berbalik arah dan kuputuskan untuk pulang. Bahuku disentuh setelah beberapa langkah menjauh dari trotoar itu. Ketika menoleh, kudapati sosok paruh baya tengah berdiri di dekatku. Ibu!
-Bandung, 08 Nop 2016
Labels: cerpen